skip to main | skip to sidebar
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

9/12/2011

Sumur Peninggalan Sunan Bejagung (2)

0 komentar
  • Sumber Penghidupan di Kala Musim Kekeringan



Selain kasiat yang banyak terkandung di dalamnya, sumur peninggalan Sunan Bejagung yang tak pernah surut airnya juga merupakan wujud penanganan kekeringan yang dilakukan sang Sunan sejak dahulu kala. 


Sumur peninggalan yang berada di sebelah makam Sunan Bejagung di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Tuban memang berbeda dengan sumur lainnya. Sumur ini tak pernah surut airnya meski sejumlah sumber air lainya mengalmi kekeringan di musim kemarau yang panjang.

Diyakini warga setempat, sumur berbentuk persegi empat dengan kedalaman 25 meter itu memiliki tingkat kekeramatan kelas wahid. Tatanan batu di dinding sumur juga masih asli, demikian pula dengan alat angkat air yang bertengger di atasnya. Terbuat dari kayu jati yang dibentuk empat persegi untuk menarik tali yang diujungnya ditambat timba.

Yang hingga kinipun, kondisinya sama seperti saat pertama kali dibuat. “Kami tidak berani merubah bentuk kerekan timba, karena sudah diwanti-wanti Mbah Sunan Bejagung agar tidak merubah keaslian tinggalannya,” kata Rawan, 67, salah satu penjaga makam Sunan Bejagung di sela kesibukanya melayani peziarah mengambil air di sumur itu.

Sumur berjarak 14 meter sebelah selatan makam Sunan Sunan Bjagung ini, menurut kisah Mbah Rawan, terbentuk karena tuah dari tongkat sakti sunan bernama asli Muhdin Asyari. Kala itu di wilayah Tuban dan sekitarnya tengah dilanda kemarau dan paceklik air. Saat akan melaksanakan Shalat Dhuhur sang Sunan kesulitan mencari air wudlu.

Dia perintahkan adeknya yang bernama, Pamor, untuk menancapkan tongkatnya ke atas tanah. Pamor kembali menemui saudaranya yang menunggu di bawah pohon Panggang. Tampak Muhdin Asyari komat-kamit merapal mantera. Kemudian bersama rombongannya mereka mengambil tongkat yang ditancapkan Pamor.

Begitu diangkat keluarlah air bersih meluber kemana-kemana. Dan saat itu pula, Muhdin Asyari dan pengikutnya membangun padepokan untuk syiar Islam di kawasan tersebut. Kemarau yang kering tak lagi menjadi kendala warga setempat, karena sumur tersebut seakan tidak pernah mau surut airnya.

Belakangan, air sumur tersebut juga menjadi rebutan. Warga dari berbagai daerah datang meminta air untuk dibawa pulang. Di samping untuk pengobatan, diyakini juga air sumur itu bisa dipakai untuk tumbal. ”Yang dating dan menginginkan air dari sumur ini banyak sekali. Sempat juga ada pejabat dari Jakarta datang meminta air, katanya untuk membersihkan tumbal di kantornya. Agar kantornya bisa tenang dan lancar,” kata Mbah Rawan.

Selaini itu, berbagai karomah lain air dari sumur peninggalan Sunan Bejagung ini juga selalu dimanfaatkan orang yang sedang berziarah ke sana. Mereka selalu mengmbil air ketika selesai bertahlil dan berdzikir di makam. *

Sumur Peninggalan Sunan Bejagung (1)

0 komentar

  • Tempat Uji Kejujuran dan Mengikat Janji Setia Sepanjang Masa


Meski bukan termasuk salah satu dari Wali Songo, Sunan Bejagung juga tercatat sebagai wali yang ikut berkiprah dalam perjuangan Islam di tanah jawa. Makam dan sejumlah peninggalanya pun hingga kini menjadi salah satu pusat tujuan wisata religi di Kabupaten Tuban.

Satu dari sekian banyak makam wali di tanah Jawa yang menjadi tujuan utama para peziarah adalah makam Sunan Bejagang di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Berada di sebelah utara pusat kota berjarak sekitar dua kilometer, area makam tersebut tak pernah sepi dari peziarah.

Itu merupakan bukti bahwa karomah Sunan Bejagung tidak lagi diragukan. Paling tidak, warisannya berupa sumur di samping selatan makam yang hingga kini menjadi tempat menyucikan diri para peziarah ketika berkunjung ke sana. Kabarnya, tidak afdhol, ketika berkunjung ke makam wali bernama asli Muhdin Asyari tersebut kemudian pulang sebelum mengambil air dari sumur peninggalanya.

Selain untuk ngalap barokah dari sang wali, air sumur itu juga diyakini memiliki berbagai manfaat. Terutama untuk ritual mengikat janji sesama kekasih agar setia selama-lamanya dan ritual uji kejujuran dari seseorang yang dituding melakukan tindak pidana kriminal.

Saking terkenalnya kasiat dari sumur ini, jarang ada orang yang berani berjanji dengan meminum air sumur buatan Sunan yang lahir dengan nama Muhdin Asyari ini. Sebab, jika ingkar taruhannya adalah nyawa. Bahkan, sudah banyak kejadian orang meninggal dunia karena tak setia pada janji yang dilafal di puasara Sunan yang terkenal gemar menyalakan pelita di Masjidil Harom, Makah itu.

“Sudah banyak kejadian sampai meninggal gara-gara ingkar janji, tapi tetap saja banyak yang meminta disumpah di makam Mbah Sunan Bejagung sebagai upaya pembuktian bahwa yang bersangkutan benar,” kata Mbah Rawan, 67, penjaga kompleks makam Sunan Bejagung.

Dikisahkan lelaki berjenggot tipis itu, satu hari serombongan orang datang ke makam. Mereka menuduh salah satu diantaranya berselingkuh. Yang bersangkutan membatah hingga nekat berani disumpah di makam Sunan Bejagung. Apa yang terjadi, setelah sumpah diucapkan di bawah kitab suci di pusara sunan dan kemudian ditutup dengan meminum air sumur Bejagung, mereka lalu pulang. Dan sesampai di rumah, yang disumpah tadi perutnya membesar, tak lama kemudian meninggal.

Ada juga seseorang yang dituding mencuri oleh orang lain. Keduanya lantas sepakat bersumpah di makam Sunan Bejagung. Jika yang dituduh mencuri itu ternyata fitnah, yang bersangkutan tidak terkena efek dari sumpahnya. Namun yang menuduh akan diberi ganjaran kesusahan tak terperi, meski tak sampai meninggal, karena telah memfitnah.  “Saya dan teman-teman disini, selalu mengingatkan jangan nekat kalau sumpah di makam Mbah Sunan Bejagung. Beliau wali penuh karomah yang tidak boleh dibuat main-main,” kata Rawan.

Selain sumpah untuk menguji kejujuran, tak sedikit pasangan kekasih yang dimabuk asmara datang meminta dibantu, untuk berjanji saling setia. Untuk urusan yang satu ini, biasanya dilakukan pasangan yang salah satu diantaranya akan meninggalkan pasangannya bekerja di luar daerah.  ”Memang banyak permintaan macam-macam dari para peziarah. Di samping untuk pengobatan, air sumur Mbah Sunan Bejagung ini juga untuk pengobatan orang sakit,” sambung Rawan.

Imam Suroso, 39, salah satu peziarah di makam Sunan Bejagung mengatakan, air dari sumur Mbah Sunan bejagung juga bisa dipakai pagar gaib rumah atau kantor tempat kerja. Teknisnya, disiramkan ke lokasi kantor agar bisa memagari pengaruh jahat yang sengaja dibuat lawan. Namun demikian, sebelum dibawa pulang air tersebut harus diberi mantera dan doa-doa saat berziarah di makam Sunan Bejagung. Itu sebagai bukti meminta izin dari sang sunan.

Prosesinya juga sederhana, peziarah mengambil air di sumur. Kemudian air tersebut dibawa ke makam Sunan Bejagung. Jika untuk mengikat janji, yang bersangkutan disumpah di bawah kitab suci, persis di samping makam. Lalu diteruskan meminum air tersebut. Dan jika dibawa pulang, air langsung dibawa bersangkutan setelah berdoa dan dzikir di makam.*

9/09/2011

Kiai Mancung, Tradisi Sedekah Laut di Pesisir Tuban

0 komentar
Satu tradisi yang masih dilestarikan warga pesisir Kota Tuban hingga saat ini adalah ritual Kiai Mancung. Sebuah kegiatan sedekah laut dengan cara menancapkan kepala Kerbabau di atas cagak kayu di pinggir pantai tempat sejumlah perahu nelayan bersandar.

 Puluhan nelayan di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota, Tuban berkumpul di pinggiran pantai yang terletak di utara pusat Kota Tuban. Mereka nampak serius mengamati tiga orang sesepuh nelayan sedang membersihkan kepala Sapi yang sudah terpotong dengan air yang dicampur kembang dan wewangian. Ternyata, kegiatan ini merupakan awal dilaksanakanya ritual Kiai Mancung, sebutan warga untuk acara sedekah laut yang dilaksanakan setiap tahun.               

Diakui sejumah warga, traidisi peninggalan leluhur yang diyakini untuk penolak balak dan kelanggengan sumber pencaharian nelayan ini sudah banyak mengalami pergeseran. “Kalau dulu, ritual ini dilaksanakan setiap hari Rabu Pon bulan Rojab setiap tahun. Dan yang dipancung adalah kepala Kerbau, bukan Sapi,” kata Sutaim, 60, sesepuh nelayan Karangsari.

Seperti tahun sebelumnya, pelaksanaan sedekah laut tahun ini para nelayan di sana baru bisa melaksanakanya pada bulan Syawal. Hal ini lantaran pendapatan nelayan sudah banyak berkurang sehingga mereka merasa kekurangan dana untuk urunan guna pelaksanaan sedekah laut. Bahkan, gara-gara minimnya dana yang ada, beberapa waktu lalu sempat diputuskan untuk tidak melaksanakan ritual ini.

Namun, acara ritual ini tetap dilaksanakan atas desakan sejumlah sesepuh kampung yang telah mengalami berbagai kejanggalan saat melaut. “Memang, awalnya sudah mau kita tiadakan, tapi para sesepuh melihat ada keanehan saat melaut. Seperti melihat pertanda bahwa ada permintaan makanan,” terang Abdul Muin, coordinator acara ini. “Karena itu, kita putuskan untuk segera melaksanakan acara ini meski dibilang terlambat,” sambungnya di sela acara.

Diceritakanya, acara Kiai Pancung ini berlangsung selama dua hari dengan diawali pemotongan kepala Kerbau, melekan sampai pagi dan acara larung sesaji pada keesokan harinya. Tapi dengan keterbatasan dana yang ada, pihak panitia memutuskan untuk mengganti kepala Kerbau dengan kepala Sapi. “Yang penting niatnya,” ujar Muin.

Usai dibersihkan dengan air yang dicampur kembang, kepala sapi tersebut diarak keliling kampong di sepanjang pesisir. Selanjutnya, dua orang sesepuh  nelayan membakar menyan, memasang kembang-kembangan dan minyak serimpi di pinggir laut kemudian dilanjutkan dengan penancapan kepala sapi menghadap ke laut di atas tiang yang sudah disediakan. Kepala sapi ini dibiarkan di tempat pemancungan sampai hancur dan hilang dengan sendirinya.

Setelah itu, malam hari tadi para nelayan berkkumpul di pinggir pantai untuk begadang bersama sampai pagi. Dan puncaknya, pada Rabu pagi ini semua nelayan libur melaut untuk melaksanakan ritual bersama. Yakni, melaksanakan larung sesaji yang terbuat dari sejumlah panganan, kembang-kembang dan sebagainya. “Semua ini kita yakini bisa menjadi tolak balak dan melancarkan kegiatan di laut yang merupakan mata pencaharian para nelayan,” sambungnya.emtovic

11/17/2010

Mereka Pahlawan Bencana

0 komentar
Irfan Yusuf baru usai salat maghrib ketika seorang kawan mengabarkan terjadi erupsi di Gunung Merapi, Selasa, 26 Oktober 2010. Tanpa pikir panjang, ia segera memacu kendaraannya dari kota Yogyakarta menuju Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Di tengah sayup-sayup raungan sirine tanda bahaya, niatnya terhenti di barak pengungsian Umbulharjo, sekitar lima kilometer menjelang Kinahrejo. Kepanikan melanda. Sejumlah warga menangis histeris kehilangan kontak dengan sanak keluarga.

“Yang ada di pikiran hanya bagaimana menemukan orang-orang hilang itu dalam kondisi selamat,” kata anggota tim SAR itu.

Keputusan nekat diambil. Sekitar pukul 20.00, bersama empat anggota SAR dan tiga warga setempat, Irfan mendekati Kinahrejo. Mereka menantang maut di tengah muntahan awan panas yang belum tuntas.

Semakin dekat, hawa panas dan ruap belerang menyeruak. Kobaran api pun mulai tampak memecah kegelapan malam. Dan, mimpi buruk itu terjawab di perbatasan dusun.

Sejauh mata memandang, hanya ada tarian api melumat pepohonan, kendaraan, juga bangunan. Bertabur abu pekat, dusun itu hancur. Bangunan terbakar. Pohon bertumbangan. Tubuh-tubuh tak bernyawa bergelimpangan di jalan masuk dusun. Lamat-lamat, rintihan memilukan terdengar.

Hanya berpelindung masker hidung, mereka menerobos ‘neraka’ di hadapan mata. "Suasananya panas sekali, abu pekat. Kami berpijak di potongan-potongan kayu yang berserak. Tanah panas. Sepatu teman saya saja sampai meleleh dan kakinya melepuh," kata Irfan.

Naluri mengantar mereka pada sumber rintihan. Tujuh orang masih bernyawa dengan luka bakar cukup serius. Tandu darurat dari sarung, dan potongan dahan dipakai menggendong mereka. "Kami bonceng dengan sepeda motor sampai ada mobil yang membantu membawanya ke rumah sakit," ujarnya.

Evakuasi tujuh korban hidup selesai. Irfan dan empat anggota SAR lainnya masuk ke area lebih dalam. Berharap menemukan korban hidup. Mereka menyisir keberadaan Mbah Marijan yang ketika erupsi masih salat di masjid. Tapi, nihil.

Di sekitar masjid dan rumah Mbah Marijan, mereka hanya menemukan empat jasad hangus. "Setelah Mas Iman Surahman dari Dompet Dhuafa datang, saya baru tahu kalau salah satunya adalah jasad wartawan VIVAnews Yuniawan Wahyu Nugroho," ujarnya.

Di tengah situasi mencekam, sejumlah relawan segera mengevakuasi jasad-jasad itu ke rumah sakit.

Dilindungi mayat
Seperti bermain petak umpet dengan maut, relawan seperti Irfan harus siap dengan perhitungan risiko mengancam jiwa. Tak jarang mereka tewas di medan bencana. Seperti kisah lima relawan yang meninggal, saat melakukan evakuasi korban di lereng Merapi.[Baca juga Bekal Terakhir dari Ibu]

Meski begitu, bukan ancaman nyawa yang membuat relawan ciut, tapi justru pemandangan menyentuh hati. "Saya paling nggak tega kalau melihat jasad wanita dalam kondisi memeluk anak. Tentara saja banyak yang nggak tega mengevakuasi," kata Irfan. "Ini banyak kami temui di Merapi dan gempa Yogya."

Rasa sentimentil itu juga merayap pada Sigit Agung Maryunus. Emosi anggota Palang Merah Indonesia (PMI) ini tak jarang diaduk-aduk saat menyaksikan pemandangan memilukan di hadapan mata. "Saya kuat di alam, saya tegar, tapi saya juga manusia yang bisa menangis," ujar lelaki yang lebih 20 tahun mengabdi sebagai relawan bencana.

Sigit masih menyimpan kenangan saat membantu korban gempa bumi di Yogyakarta, 2006. Kala itu, ia tengah berjuang mengeluarkan korban meninggal dari reruntuhan rumah saat bumi kembali bergoyang.

"Tiang beton rubuh menghantam jasad itu sampai darahnya muncrat ke tubuh saya. Saya terlindung jasad itu. Saya sangat berterima kasih kepada jasad itu karena telah menyelamatkan saya," ujar Sigit menahan isak. “Sudah meninggal tapi masih bisa menyelamatkan nyawa orang lain.”

Bagi Irfan dan Sigit, menjadi relawan bencana bukan aktivitas mudah. Mereka seringkali dihadapkan pada kondisi sulit, mengancam jiwa dan menguras emosi. Tapi, pekerjaan ini seperti sebuah panggilan hidup.

Bagi Irfan dan Sigit misalnya, menjadi relawan bencana adalah panggilan hidup mereka sejak masih belia. Kepekaan terhadap alam dan rasa kemanusiaan Irfan terasah sejak bergabung di organisasi pecinta alam semasa kuliah. Irfan  kerap terlibat pencarian orang hilang di gunung.

Panggilan itu kian akrab. Dia memutuskan bergabung dengan tim SAR enam tahun silam. "Saya sempat dikirim menangani korban di sejumlah area bencana seperti tsunami di Aceh 2004, juga gempa bumi di Yogyakarta 2006," kisah lelaki 29 tahun ini.

Sementara Sigit memberanikan diri bergabung sebagai relawan PMI semasa duduk di bangku SMA, 1990. "Panggilan jiwa saja tidak cukup. Saya pikir, saya juga butuh obat-obatan untuk menolong, makanya saya masuk ke PMI," ujar pria kelahiran 1974 ini.

Sayap-sayap malaikat
Tak semua relawan berada di 'garis depan' seperti Irfan dan Sigit. Banyak relawan yang tersebar, mulai dari pos pengungsian, posko kesehatan, hingga dapur umum. Mereka terjun sesuai keahlian masing-masing, peran mereka tak kalah penting bagi korban bencana.

Seperti Ariyo Faridh, 30 tahun, yang terlibat memulihkan trauma anak-anak korban bencana di sejumlah daerah. Ia terjun ke sejumlah medan bencana seperti Aceh, Bengkulu, Pangandaran, Tasikmalaya, Situ Gintung, dan Merapi. "Saya terlibat melalui terapi dongeng untuk anak-anak," ujarnya.

Setiap kali mendengar bencana besar, Ariyo segera mencari 'kendaraan' seperti lembaga swadaya agar mudah menjangkau korban bencana. Demi panggilan jiwanya, ia tak sungkan membolos kerja, atau cuti untuk menghibur anak-anak korban bencana. "Saya kecanduan cari pahala," ujarnya sambil tertawa.

Jalan sama juga pernah dialami Iman Surahman. Sebelum memegang amanah memimpin Disaster Management Center Dompet Dhuafa, dia keluar masuk area bencana sebagai pendongeng.

"Saya selalu menjadikan anak-anak lokomotif untuk mempercepat pemulihan trauma pascabencana. Saya ajak anak-anak bangkit menyemangati orangtuanya," ucap Iman, yang sudah menjelajah puluhan medan bencana skala kecil hingga besar di dalam negeri maupun mancanegara. 

Ada kenikmatan, dan rasanya  seperti candu, saat mereka berhasil mengubah situasi muram dan penuh tangis, menjadi senyuman. Atau membuat korban tergelak-gelak dengan cerita menghibur. Kondisi inilah membuat tali emosi terjalin antara relawan dan para korban.

“Bahkan, beberapa kali saya bawa anak-anak korban bencana sebagai oleh-oleh untuk istri di rumah. Ketika saya masuk ke lokasi bencana saya ingin mengikat hati saya di situ,” ujar lelaki yang kini mengasuh delapan anak angkat di kediamannya di kawasan Bekasi, Jawa Barat. [Baca wawancara Iman Surahman: "Menyelamatkan Sesama Seperti Candu"]

Kedekatan emosional dengan korban bencana juga membuat Ariyo tak kuat menahan haru. Saat itu sepucuk surat hinggap di rumahnya di Jakarta. Surat itu dari bocah korban bencana tsunami Aceh yang masih berusia empat tahun. Isinya cuma satu kalimat: ‘abang kelinci jangan lupa kasih makan wortel’. “Anak itu sepertinya lekat dengan tokoh kelinci, dari dongeng yang saya bawakan dulu,” ujar Ariyo.

Menolong tanpa pamrih, para relawan ini layaknya sayap-sayap para malaikat yang turun di tengah bencana. Mereka tak lelap meski lelah. Mereka bekerja dalam diam, dan ikhlas. Rasanya tak berlebihan kita menyebut mereka sebagai pahlawan.vivanews.com

Lagi-lagi, Perlakuan Memilukan Bagi TKI

0 komentar
Peristiwa memilukan kembali dialami pekerja asal Indonesia yang mengadu nasib sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di luar negeri. Kali ini terjadi di Arab Saudi.

Di mata majikan, Sumiati binti Salan Mustapa tampaknya tidak lagi dipandang sebagai manusia. Perempuan 23 tahun itu berkali-kali menerima siksaan hebat. Kasus ini mendapat perhatian besar di tanah air setelah suatu media massa di Arab Saudi akhir pekan lalu memberitakan nasib Sumiati. 

Harian The Saudi Gazzette mengungkapkan, sejak mulai bekerja pada 23 Juli 2010, Sumiati kerap menerima penyiksaan dari istri dan anak majikannya. Saat ini, Sumiati sedang dirawat di Rumah Sakit King Fadh di Kota Madinah. Lukanya sangat parah, sampai-sampai bibir bagian atasnya hilang, seperti luka gunting.
Sumiati merupakan TKI yang berasal dari Dusun Jala, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat. Dia berangkat ke Arab Saudi melalui PT Rajana Falam Putri dan tiba di Arab Saudi pada 18 Juli 2010.
Penyiksaan Sumiati itu turut membuat prihatin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia lalu memerintahkan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan para pejabat lain yang terkait agar serius menangani kasus Sumiati.

Penanganan itu termasuk dalam hal perawatan medis ataupun advokasi hukum. Khusus untuk upaya hukum terhadap majikan Sumiati, Yudhoyono minta agar hukum tidak dikaburkan. "Saya dengar ada upaya pengaburan. Jangan sampai hal ini terjadi. Saya ingin hukum ditegakkan," kata Yudhoyono sebelum Rapat Terbatas bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Kantor Presiden, Selasa 16 November 2010.

Presiden meminta agar tim diplomasi Kementerian Luar Negeri memberikan bantuan total kepada TKW yang baru tiga bulan berada di Arab Saudi itu.  "Segera kirim tim agar yang bersangkutan dapat perawatan medis terbaik," ucap Yudhoyono sambil meminta agar kasus penyiksaan terhadap TKI tidak terjadi lagi.

Pihak keluarga menuntut pertanggungjawaban sponsor yang memberangkatkan Sumiati. Sementara pihak rumah sakit merekomendasikan agar Sumiati menjalani operasi plastik.
***
Lembaga pejuang hak-hak pekerja Indonesia di luar negeri, Migrant Care, menilai bahwa terungkapnya kasus penganiayaan keji terhadap Sumiati menunjukkan pembiaran terhadap berbagai kekerasan dan pelanggaran HAM atas PRT migran.

"Tidak hanya kali ini saja, sudah terlalu banyak PRT Migran kita yang menjadi korban, namun pemerintah tidak menganggap ini sebagai persoalan serius yang menuntut perhatian dan tindakan kongkret agar tidak lagi ada korban yang berjatuhan," kata Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care dalam pernyataan resmi lembaga itu, Minggu 14 November 2010.

Kasus ini menunjukkan belum adanya kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi mengenai perjanjian (MoU) tentang perlindungan PRT migran asal Indonesia seperti Sumiati. Padahal, absennya proteksi hukum bagi buruh migran membuka ruang lebar untuk berbagai kekerasan dan pelanggaran terhadap mereka. Apalagi, menurut Migrant Care, kedua negara juga sama-sama belum mengakui konvensi ILO untuk perlindungan PRT.

Maka lembaga itu menuntut pemerintah RI harus segera mengirim nota protes diplomatik kepada Arab Saudi sebagai bentuk protes terhadap kebiadaban majikan Sumiati yang melewati koridor kemanusiaan sekaligus mengawal kasus ini untuk segera diproses melalui jalur hukum, dan memastikan tidak ada proses di luar itu.

Pemerintah Indonesia dan Saudi Arabia juga harus menjadikan kasus ini sebagai momentum untuk segera mengambil langkah kongkret bagi perlindungan PRT migran melalui pembentukan MoU yang mencerminkan prinsip-prinsip HAM dan decent work (kerja layak). Kemenakertrans RI juga dituntut melakukan investigasi terhadap proses penempatan Sumiati ke Saudi Arabia, yang diduga kuat menjadi korban sindikat trafficking atau penyelundupan manusia.

Pemerintah, melalui Kementrian Luar Negeri (Kemlu), pernah mengungkapkan hambatan yang sering ditemui dalam  soal perlindungan WNI atau pekerja migran di luar negeri.

Mantan Direktur Perlindungan WNI dari Kemlu, yang kini menjadi Konsul Jenderal RI di Hong Kong, Teguh Wardoyo, dalam wawancara yang dimuat VIVAnews beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa di beberapa negara tujuan penempatan, pekerja asing yang bergerak di sektor informal tidak dilindungi oleh Hukum Perburuhan atau Ketenagakerjaan setempat.

Selain itu, minimnya pendidikan sebagian besar TKI yang bergerak di sektor informal membuat mereka kerap tidak memahami hak-hak yang ada di perjanjian kerja.

"Masalah rendahnya pendidikan TKI merupakan pemicu berbagai masalah yang timbul di luar negeri. TKI kerap tidak bisa membaca dan menulis, akibatnya mereka tidak tahu bahwa identitas mereka dipalsukan di paspor, tidak paham isi kontrak, dan tidak dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi kerja di luar negeri yang berbeda dengan di Indonesia," kata Wardoyo.

"Yang terparah adalah mereka tidak dapat membela diri ketika mengalami eksploitasi, baik oleh majikan maupun agen. Jika TKI yang dikirimkan setidaknya berpendidikan minimal SMA, dengan dasar pendidikan yang memadai tentunya kompetensi mereka akan jauh lebih baik," lanjut Wardoyo.

***

Demi mencegah munculnya kasus serupa seperti yang dialami Sumiati, maka pemerintah Indonesia diharapkan menerapkan langkah yang sama saat menghadapi Malaysia tahun lalu, yaitu menangguhkan pengiriman pekerja migran ke Arab Saudi dan memaksa mereka untuk berunding membuat perjanjian yang menjamin perlindungan dan hak-hak para pekerja.

Selain Arab Saudi, Malaysia pun dikenal sebagai salah satu tujuan utama pengiriman pekerja migran - khususnya di sektor informal, seperti pembantu rumah tangga. PRT asal Indonesia pada akhirnya memberi pengaruh yang cukup signifikan bagi negara tempat mereka bekerja.

Malaysia kini tampak kesulitan mendapatkan tenaga baru untuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT) sejak Indonesia menghentikan ekspor PRT ke Negeri Jiran tahun lalu. Menurut laman harian The Star, Selasa 16 November 2010, para agen penyalur PRT mengaku kesulitan untuk mendatangkan PRT asing sejak Indonesia membekukan pengiriman PRT Juni tahun lalu, menyusul banyaknya kasus penganiayaan dan perlakuan yang tidak pantas yang diterima pekerja dari negeri ini.

"Kita terpaksa menolak permintaan PRT dari konsumen karena kekurangan tenaga," kata Raja Zulkepley Dahalan, direktur Agensi Pekerjaan Haz Bhd, kepada The Star.   

Sambil menunggu perundingan antara Indonesia dan Malaysia untuk membuat perjanjian yang menjamin perlindungan dan hak-hak PRT dari Indonesia, para agen lalu melirik negara-negara lain sebagai alternatif, diantaranya Kamboja. Direktur Agensi Pekerjaan Sri Nadin Sdn Bhd, Fiona Low, mengungkapkan bahwa banyak agen kini berpaling ke Kamboja sebagai sumber penyedia PRT karena sementara ini merupakan alternatif terbaik.vivanews.com

11/11/2010

Kotaku, Kota Trotoar

0 komentar
Sebagai warga Kabupaten Tuban, saya merasa sangat bangga dengan berbagai perubahan yang terjadi di Kota ini. Terutama, dalam segi pembangunan yang sedemikian pesat jika dibandingkan dengan belasan tahun silam.

Ya, hampir seluruh jalan yang ada di Bumi Ronggolawe ini telah beraspal dengan kualitas terbaik. Bahkan, trotoarnya juga hampir semuanya lebih mengkilat dari alas rumah sebagian besar warganya.

Keramik berwarna merah kekuningan itu menghiasai pinggiran sepanjang jalan di kawasan kota sampai ke pelosok-pelosok desa. Kontras memang jika dibandingkan dengan beberapa gubuk bambu tempat tinggal warga yang berdiri di pinggiran jalan. Namun, itulah kemajuan paling menonjol di tanah kelahiranku ini.

Jika mau dibandingkan dengan beberapa kabupaten lain, atau bahkan dengan Surabaya sebagai ibukota Propinsi Jawa Timur, saya tidak yakin ada infrastruktur jalan melebihi Kabupaten Tuban.

“Kalau soal jalan, memang Tuban yang paling bagus di Jawa Timur,” kata-kata ini hampir selalu saya dengar dari sebagian teman di daerah lain saat bertemu di dalam berbagai kesempatan. Sekali lagi, sebagai warganya, saya patut bangga dengan predikat ini.

Dan tak hanya saya, banyak warga lain di kota yang juga dikenal dengan sebutan Kota Wali ini mengaku senang dengan kondisi jalan yang semuanya bagus dan trotoar yang mewah.

Tapi, apakah semuanya berpendapat demikian?, ternyata tidak. Sebagian kalangan juga menganggap bahwa mewahnya trotoar ini merupakan sebuah pemborosan keuangan daerah. Mereka mengatakan bahwa uang untuk pembangunan trotoar itu bakalan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk biaya pendidikan, penanganan bencana atau untuk hal-hal yang lebih dubutuhkan di masyarakat kalangan bawah.

Mereka mencontohkan tentang pentingnya penanganan bencana banjir saat musim hujan, kekerungingan ketika kemarau melanda dan banyaknya warga yang masih buta huruf serta menumpuknya pengangguran di kota yang juga terkenal dengan sebutan Kota Towak ini.

“Lihat saja itu, banyak sekali perusahaan berskala besar berdiri di Tuban. Tapi, pekerja-pekerja di dalamnya didominasi orang luar. Warga Tuban hanya sebagai buruh atau pekerja kasar di sana karena keterbatasan SDM,” keluh salah satu teman aktivis.

Tanggal 12 November 2010 Tuban menginjak usainya yang sudah cukup tua, 717 tahun. Apakah kemajuan hanya akan berkutat di bidang infratruktur jalan dan trotoar saja, tentu tidak. Tuban kedepan harus lebih maju dalam segala aspek dan segala bidang.

Selamat Ulang Tahun kotaku, semoga jaya selalu !!!

11/09/2010

Ayam Betina Berubah Jadi Jantan

0 komentar
TANJUNGPINANG -  Seekor ayam kampung betina yang sudah pernah bertelur berkali-kali, berubah bentuk menjadi seekor ayam jantan. Perubahan fisik ayam milik pasangan suami istri Rudi Ramlan dan Susanti ini, sontak membuat heboh warga sekitar.

Ditemui di rumahnya di Jalan Salam Gg. Salam III No 157, Kecamatan Bukit Bestari, Tanjungpinang, Selasa (9/11/2010), Rudi mulai menyadari perubahan bentuk fisik dari ayam jantan tersebut sejak tiga bulan lalu. Saat itu, jengger ayam betina tersebut mulai membesar seperti ayam jantan.

Tak hanya itu, ceker di kakinya pun mulai berubah bentuk mirip ayam jantan. Puncaknya, ayam betina tersebut menunjukkannya kejantanannya dengan berkokok saban pagi layaknya ayam jantan. "Awalnya saya heran, kok ada ayam berkokok di kandang ayam saya. Padahal, semua ayam saya adalah betina," kata Rudi.

Merasa penasaran, purnawiran Angkatan Darat ini pun lantas melongok ke kandang ayam miliknya untuk mencari asal kokok tersebut. Betapa terkejutnya Rudi ketika mendapati yang berkokok adalah ayam betina kesayangannya.

Perubahan tingkah laku pun mulai ditunjukkan oleh ayam betinanya tersebut. Ayam betina yang berubah menjadi ayam jantan ini mulai ogah-ogahan bergaul dengan ayam-ayam betina lainnya .

Bahkan terkadang ia sering mengasingkan diri dengan memilih bersembunyi di balik tanaman yang ada di sekitar rumahnya. Bahkan untuk kebutuhan seksual, ayam betina tersebut berubah. "Kalau ada ayam jantan yang mendekatinya, ayam betina ini langsung jongkok. Jadi ayam jantannya tidak bisa lagi mengawininya," tukas Rudi .

Diceritakan Rudi, bahwa ia mendapatkan ayam tersebut dari keponakannya sekitar 10 tahun lalu. "Saudara saya yang tinggal di Batu 7 memberikan saya sepasang ayam, jantan dan betina, waktu saya pindah kesini tahun 2000 lalu. Mereka memberikan ayam ini karena ayam-ayam saya sebelumnya hilang dicuri maling. Ayam betina ini pun menjadi ayam kesayangan istri saya, karena setiap bertelor banyak sekali," kata Rudi .

Namun, tak lama kemudian, ayam-ayam miliknya mati semua karena penyakit. Entah mengapa, ayam betina tersebut tetap bertahan hidup. Tak hanya itu, dibandingkan dengan ayam-ayam lainnya, ayam betina tersebut lebih "panjang umur" dibandingkan seluruh ayam-ayam miliknya .

Sementara itu, Susanti, istri Rudi, mengaku sering ditanyai tetangganya tentang perubahan bentuk fisik ayamnya tersebut. "Tetangga-tetangga saya juga bingung melihatnya. Kalau dilihat dari badannya, seperti ayam betina. Tapi kalau dilihat dari kepala hingga leher, seperti ayam jantan. Bisa berkokok pula," ucap Susanti.

Meski memiliki fisik yang aneh, Rudi dan Susanti mengaku akan tetap memelihara ayam. "Ini ayam langka. Saya dan suami sudah sayang dengan ayam ini. Akan terus saya pelihara," ujarnya.kompas.com

11/08/2010

Petani Tewas Ditembak Brimob

0 komentar
Peluru Polisi kembali memakan korban jiwa warga sipil. Kali ini, seorang petani asal Desa Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Ahmad Adam (40), tewas ditembak anggota Brimob, Senin (8/11/2010) sekitar pukul 14.00.

Penembakan terjadi saat puluhan warga Desa Senyerang melakukan aksi unjuk rasa memblokir Sungai Pengabuan dengan membentangkan kawat.

Aksi unjuk rasa terkait masalah sengketa lahan seluas 7.224 hektar antara warga dengan PT Wira Karya Sakti (WKS). Sengketa lahan itu telah berlangsung sejak tahun 2000, namun hingga sekarang belum ada penyelesaian.

Menurut Ketua Persatuan Petani Jambi Brontoseno, aksi pemblokiran sungai sudah berlangsung sejak tangal 4 November 2010. Sekitar pukul 13.30, sebuah kapal tanker menerobos blokade warga. Di belakang kapal tanker terdapat sebuah kapal penarik ponton yang mengangkut sekitar 30 personel Brimob bersenjata lengkap.

Puluhan warga naik perahu ketek mendekati kapal tersebut agar berhenti, namun anggota Brimob malah melepaskan tembakan peringatan. "Saya menghitung ada 50-an tembakan," kata Brontoseno.

Warga pun terpancing emosinya, sehingga melemparkan bom molotov ke arah ponton yang ditarik kapal tersebut. Sementara anggota Brimob terus melepaskan tembakan peringatan sehingga warga memilih mundur. Saat warga mundur terjadi penembakan yang menyebabkan korban tertembak di kepala. "Korban sempat dibawa ke Puskesmas tapi nyawanya tidak tertolong," kata Brontoseno.

Kepala Bidang Humas Polda Jambi Ajun Komisaris Besar Almansyah belum dapat memberikan komentar terkait peristiwa tersebut karena belum menerima laporan lengkap. Kompas.com

Piyu Padi Lelang "Istri" Rp 35 Juta

0 komentar
Jakarta - Untuk menggalang dana untuk korban bencana alam di Indonesia Piyu Padi menggagas sebuah ide untuk membuat sebuah acara dengan melibatkan 30 gitaris yang diambil dari grup Blackberrynya.

Dalam acara yang digelar Jumat (5/11) malam juga diadakan lelang gitar milik Setiawan Djodi, Dewa Budjana dan Piyu Padi. Tujuan diadakan lelang sendiri agar semua gitaris bisa main dan ikut serta. Selain gitar mereka juga mengedarkan langsung kotak putih untuk donasi.

Dalam pelelangan gitar tersebut gitar Piyu Padi terjual dengan harga Rp35.000.000 dibeli oleh putra dari Sandriana Malakian, bernama Kalam. Piyu mengaku sangat bangga sekaligus haru dengan perhatian masyarakat, undangan dan tamu. Terlebih gitarnya bisa terjual dan bisa langsung disumbangkan.

"Bangga sekaligus haru, perhatian masyarakat, para undangan, tamu dan semuanya sangat luar biasa, gitar saya juga bisa terjual dengan maksimal dan bisa langsung disumbangkan," ujarnya saat ditemui di Bentara Budaya Kompas, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (5/11).

Piyu mengatakan bahwa gitar yang dibelinya di Hongkong yang dia lelangkan mempunyai nilai historis tersendiri. Menurut Piyu koleksi gitar yang dimilikinya termasuk yang dilelang diibaratkan sebagai istrinya, dia juga rela dan ikhlas memberikan gitar tersebut.

"Ikhlas sekali memberikan sesuatu yang saya cintai, semua gitar itu ibarat istri saya, saya cintai yang saya sangat sayang," paparnya.

Piyu berharap hasil penjualan gitarnya bisa bermanfaat untuk korban bencana alam yang membutuhkan. -kapanlagi.com-

9/17/2010

Contoh Kecil saat Alam Mengamuk

0 komentar

Air dan angin merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, ketika keduanya mengamuk, maka musibahlah yang sedang menyapa kita. Di Bojonegoro, beberapa hari lalu alam memberi contoh kecil bagaimana jadinya saat ia mengamuk.

Hujan deras bercampur angin kencang memporak-porandakan sejumlah permukiman penduduk. Jerit tangispun bercampur menjadi satu dengan suara gemuruh kemarahan putting beliung yang sedang menyapa Ledok Kulon dan Desa Banjarrejo, Kecamatan Kota; Desa Sranak, Kecamatan Trucuk; dan Desa Tumbras, Kecamatan Kedungadem, Minggu (13/9/2010).

Dua rumah roboh di Keluarhan Ledok Kulon, bangungan SDN II Banjarejo, Bojonegoro rusak parah, dan puting beliung juga menerjang gedung SDN Tumbrasanom, di Kecamatan Kedungadem. “Ada enam ruang kelas di sekolahan ini ambruk setelah disapu angin. Paling parah adalah ruang kelas V,” kata Camat Kedungadem, Ali Mahmudi sesaat setelah kejadian.

Selain itu, puluhan rumah warga di empat desa tersebut juga kebanyakan mengalami rusak di bagian atapnya. Di Kelurahan Ledok Kulon ada empat rumah yang atapnya porak-poranda. Yakni rumah milik Kusno, Jalidin, Sukimin, dan Salim. Dan di Desa Sranak, sedikitnya ada 60 rumah warga yang juga rusak parah di bagian atapnya setelah terhempas angin.

Jika dibandingkan dengan bencana alam lain yang terjadi selama ini, kejadian ini bisa dibilang merupakan bencana kecil akibat kemarahan alam. Namun, paling tidak kita mendapat pelajaran penting bahwa apa yang setiap saat kita rasakan kenikmatanya itu sewaktu-waktu bisa berubah menjadi petaka. –emtovic-