skip to main | skip to sidebar
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

11/11/2010

Kotaku, Kota Trotoar

0 komentar
Sebagai warga Kabupaten Tuban, saya merasa sangat bangga dengan berbagai perubahan yang terjadi di Kota ini. Terutama, dalam segi pembangunan yang sedemikian pesat jika dibandingkan dengan belasan tahun silam.

Ya, hampir seluruh jalan yang ada di Bumi Ronggolawe ini telah beraspal dengan kualitas terbaik. Bahkan, trotoarnya juga hampir semuanya lebih mengkilat dari alas rumah sebagian besar warganya.

Keramik berwarna merah kekuningan itu menghiasai pinggiran sepanjang jalan di kawasan kota sampai ke pelosok-pelosok desa. Kontras memang jika dibandingkan dengan beberapa gubuk bambu tempat tinggal warga yang berdiri di pinggiran jalan. Namun, itulah kemajuan paling menonjol di tanah kelahiranku ini.

Jika mau dibandingkan dengan beberapa kabupaten lain, atau bahkan dengan Surabaya sebagai ibukota Propinsi Jawa Timur, saya tidak yakin ada infrastruktur jalan melebihi Kabupaten Tuban.

“Kalau soal jalan, memang Tuban yang paling bagus di Jawa Timur,” kata-kata ini hampir selalu saya dengar dari sebagian teman di daerah lain saat bertemu di dalam berbagai kesempatan. Sekali lagi, sebagai warganya, saya patut bangga dengan predikat ini.

Dan tak hanya saya, banyak warga lain di kota yang juga dikenal dengan sebutan Kota Wali ini mengaku senang dengan kondisi jalan yang semuanya bagus dan trotoar yang mewah.

Tapi, apakah semuanya berpendapat demikian?, ternyata tidak. Sebagian kalangan juga menganggap bahwa mewahnya trotoar ini merupakan sebuah pemborosan keuangan daerah. Mereka mengatakan bahwa uang untuk pembangunan trotoar itu bakalan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk biaya pendidikan, penanganan bencana atau untuk hal-hal yang lebih dubutuhkan di masyarakat kalangan bawah.

Mereka mencontohkan tentang pentingnya penanganan bencana banjir saat musim hujan, kekerungingan ketika kemarau melanda dan banyaknya warga yang masih buta huruf serta menumpuknya pengangguran di kota yang juga terkenal dengan sebutan Kota Towak ini.

“Lihat saja itu, banyak sekali perusahaan berskala besar berdiri di Tuban. Tapi, pekerja-pekerja di dalamnya didominasi orang luar. Warga Tuban hanya sebagai buruh atau pekerja kasar di sana karena keterbatasan SDM,” keluh salah satu teman aktivis.

Tanggal 12 November 2010 Tuban menginjak usainya yang sudah cukup tua, 717 tahun. Apakah kemajuan hanya akan berkutat di bidang infratruktur jalan dan trotoar saja, tentu tidak. Tuban kedepan harus lebih maju dalam segala aspek dan segala bidang.

Selamat Ulang Tahun kotaku, semoga jaya selalu !!!

9/18/2010

Derita Anak Nelayan

0 komentar
Memakan tanah, protolan tembok, kayu atau pecahan genting merupakan kebiasaan Bastiawan, seorang bocah kecil berusia 13 tahun tinggal di Dusun Randu Geneng, Desa Cempoko Rejo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Tidak usah dibayangkan bagaimana rasanya, cukup kita bertanya dalam hati, kenapa anak kedua dari pasangan Edy Priyanto, 43, dan Riniyatin, 37, sampai melakukan hal itu selama 5 tahun terahir.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berkunjung ke rumah sederhana dari kayu tempat tinggal keluarga Edy Priyanto. Di kampung nelayan pesisir Palang tersebut saya ditemui oleh Edy dan ibu mertuanya, Mining, berusia sekitar 60 tahun. “Monggo pinarak, wonten perlu nopo,” ujar Mining mengawali pembicaraanya, mempersilahkan saya duduk di sebuah dipan dari bambu di teras rumah berualas tanah itu.

Bersama semilir angin laut, percakapan kami mengalir bergitu saja setelah saya memperkenalkan diri. Beberapa menit kemudian, bocah dekil tanpa baju dengan kulit hitam kekuningan seperti seorang penderita penyakit liver menghampiri Mining kemudian duduk di pangkuanya. Celana pendeknya kumal, dan perut buncit itu sama sekali tidak seimbang dengan tubuhnya yang kerempeng. Ya, dialah Bastiawan, bocah kelas 5 SD yang doyan makan tanah, pecahan genting maupun rontokan tembok.

“Kebetulan, dia datang. Jadi lebih mudah untuk memulai pembicaraan,” kataku dalam hati sebelum memulai wawancara terkait kebiasaan aneh Bastiawan. Gayungpun bersambut, satu kata saja pertanyaan tentang Bastiawan, wanita berkebaya itu langsung mengalirkan semua cerita mengenai cucunya.

Bastiawan memiliki kakak perempuan bernama Imro’ yang sekarang tinggal bersama suaminya di Desa lain, dan memiliki seorang adik bernama Latifatul Rustiana, berusia 10 tahun. Kedua saudaranya itu normal seperti warga lainya. Hanya Bastiawan yang bernasip malang dengan sejumlah kelainannya.

Penyakit aneh dideritanya sejak berusia 7 bulan. Kala itu, terdapat benjolan sebesar ibu jari orang dewasa di bagian kiri perutnya. “Semakin hari, benjolan terus membesar hingga merata di seluruh bagian perut,” kisah Mining sambil sesekali mengusap peluh yang membasahi wajahnya.

Di usia satu tahun, kebiasaan aneh Bastiawan mulai muncul. Ketika bermain di depan rumah bersama teman-teman sebayanya, ia kerap mengambil tanah kemudian dimakannya begitu saja. Tak hanya itu, saat berada di sungai juga dengan enaknya dia mengambil tanah liat untuk dimakan. Ketika rumah dalam keadaan sepi, Bastiawanpun kerap mempreteli gedek -dinding dari bambu- rumahnya kemudian dimasukkan ke mulut untuk dilahap.

Ternyata, kebiasaan memakan sesuatu yang tidak selayaknya ini dilakukan Bastiawan setiap ia merasakan sakit di dalam perutnya. Semua dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena malu dikatain teman serta takut dimarahin orangtua. Ya, bocah kecil ini melakukannya untuk mengalihkan rasa sakit yang ia derita. Nasi atau lauk pauk yang disediakan di ruang makan tak ada satupun yang menarik minat sang bocah.

“Kalau pas penyakitnya kambuh, dia ini tidak mau makan apa-apa. Tubuhnya panas sekali hingga membuat dia terus menangis. Hal itu sering sekali terjadi selama bertahun-tahun,” tukas Mining sembari menyabarkan cucunya yang langsung meneterkan air mata setiap kali kelemahanya diceritakan oleh siapapun.

Bastiawan juga bersekolah di SD di desanya. Ia sekarang duduk di bangku kelas 5. Namun kerap bolos atau pulang mendadak dari sekolahan setiap kali penyakitnya kambuh. Saking seringnya, para guru maupaun pihak sekolah memaklumi murid satu ini.

Dalam kondisi ini, bukan berarti keluarga tinggal diam menerima semua. Meski hanya seorang nelayan, Edy sudah beberapa kali berupaya mengobatkan anak lelakinya. Beberapa tahun lalu, dua kali Bastiawan dibawa ke RSUD dr Soetomo, Surabaya untuk menjalani pengobatan. Pertama menjalani rawat inap selama 15 hari dan yang kedua harus rawat inap 9 hari. Selain itu, tak terhitung berapa jumlahnya ia mendatangi dokter guna mencari kesembuhan sang anak. “Semua kami lakukan. Sampai ke paranormal dan pengobatan alternative juga kita tempuh,” kata Edy menimpali ibu mertuanya.

Tapi apa yang didapat, kondisi Bastiawan tetap sama. Semua usaha penyembuhan itu mendapat nilai nol besar. Padahal, untuk biaya pengobatan, keluarga harus hutang kesana kemari sampai menumpuk banyak sekali. “Tapi kami tidak akan menyerah. Semua upaya akan terus kami tempuh untuk kesembuhanya,” imbuh nelayan serabutan ini lirih.

Demi menyambung hidup dan meneruskan perjuangan untuk menyembuhkan sang anak, ibu Bastiawan berangkat lagi ke Malaysia. Maklum, Edy Priyanto dan Riniyatin memang pertama kali kenal di Malaysia saat keduanya sama-sama merantau ke negeri Jiran bebera tahun lalu. Setelah kembali ke Indonesia, mereka menikah dan tinggal bersama di rumah Riniyatin.

Di sana, Riniatin bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sedangkan Edy, bekerja sebagai nelayan serabutan yang kerap libur kerja karena tak tega meninggalkan Bastiawan sakit sendirian di rumah. “Ibunya setiap bulan kirim uang dari sana. Tapi, semuanya selalu habis untuk bayar hutang dan untuk biaya pengobatan,” ungkap Edy.

Setiap menelpon, pembicaraan mereka hanyalah seputar perkembangan penyakit Bastiawan. Dan hampir biasa dipastikan, melalui telpon seluler sederhana itu, selalu terdengar suara tangis Rini dari negeri seberang meratapi nasib anak lelakinya.

Kurang Perhatian

Sekitar satu jam disana, sayapun berpamitan karena harus balik ke Kota Tuban untuk melanjutkan hunting hari itu. Usai bersalaman dengan beberapa anggota keluarga dan mencoba sedikit memberi semangat kepada Bastiawan dan ayahnya, sayapun meninggalkan perkampungan padat penduduk di Timur Kota Tuban tersebut. Hingga keesokan harinya, saya diajak dokter Bambang Lukmatono untuk kembali ke sana setelah direktur rumah sakit Husada Indah ini membaca berita termuat di halaman pertama Koran harian tempat saya bekerja.

Kali ini, saya meluncur ke Palang menggunakan mobil Panther milik sang dokter. Perlengkapan medis telah tersiapkan di bangku tengah mobil berwarna biru yang biasa digunakan keliling dokter bertempat tinggal di sebelah timur alun-alun kota Tuban.

20 menit perjalanan, kamipun tiba di kampung nelayan itu. Karena jalan tanpa aspal menuju gang rumah Edy tak cukup dilalui mobil, kami memarkir kendaraan di halaman salah satu rumah penduduk. “Silahkan, diparkir sini saja,” ucap seorang wanita tua yang sehari sebelumnya telah bertemu dengan saya, mempersilahkan halaman rumahnya dipakai untuk parkir. “Sampean mau ke rumah Bastiawan lagi ya,” lanjutnya bertanya.

Beberapa saat ngobrol, kamipun berjalan bersama menuju rumah sederhana Edy. Disana, sejumlah keluarga dan para tetangga langsung berkumpul. Mungkin karena ingin tahu tentang maksud kedatangan dokter Bambang. “Monggo, silahkan masuk pak. Biar saya carikan Bastiawan dulu,” sambut Edy melihat kedatangan kami. Sepertinya dia sudah paham dengan apa maksud kami berkunjung ke rumahnya.

Sebagai tamu, kamipun terlebih dulu berbincang-bincang dengan keluarga sebelum melaksanakan apa maksud dan tujuan kami. Tak sampai lama, pihak keluarga mempersilahkan dokter Bambang memeriksa Bastiawan setelah mereka menceritakan sejak awal bagaimana kondisi penyakitnya. “Silahkan kalau mau diperiksa sekarang,” ujar Edy yang duduk bersama anak lelakinya di sebuah ranjang kayu ruang tamu rumahnya.

Bastiawan yang terlihat kikuk, bersedia merebahkan tubuhnya. Alat kedokteranpun keluar dari kotaknya untuk memeriksa sang bocah. Tapi apa yang terjadi, baru beberapa menit dipegang dokter, Bastiawan menangis keras. Ia berontak. Menolak untuk disuntik. “Gak mau disuntiik…,” teriak Bastiawan keras sambil menangis dan berusaha melepas genggaman tangan ayahnya. Eh, tenyata bocah yang doyan makan tanah dan tembok itu takut jarum suntik. Padahal, dokter sama sekali belum mengeluarkan alat suntiknya.

Penolakan itu sukses, Bastiawan hanya diperiksa saja oleh dokter kemudian dipersilahkan untuk kembali bermain bersama puluhan temanya yang sejak awal ikut berkerumun di rumah menyaksikan apa yang sedang dilakukan dokter kepada dirinya.

Bagaimana hasil pemeriksaan?, dokter Bambang menjelaskan bahwa penyakit yang diderita oleh Bastiawan sama sekali tidak ada hubunganya dengan kebiasaan aneh memakan tembok atau genting. “Ini terjadi karena kurang perhatian orangtua saja. Sehingga sang anak memakan sesuatu yang bukan semestinya,” tegasnya.

Tentang perut Bastiawan terus membesar dan tubuhnya tak bisa berkembang itu, Bambang menyatakan bahwa terjadi Spleno Megali atau kelainan darah hingga mengakibatkan beberapa organ tubuhnya terganggu. Selain itu, dari tubuh korban juga nampak mengalami Anemia Grafis atau kekurangan sel darah merah yang terlalu lama. “Untuk itu, harus dilakukan penanganan lebih serius guna mengetahui penyebab pasti penyakitnya. Baru setelah itu dilakukan pengobatan. Tapi, melihat kondisinya saat ini, butuh waktu yang tidak singkat dalam pengobatanya,” jelas Bambang.

Kala itu, Bambang berharap, keluarga bersedia membawa Bastiawan rutin ke tempat praktiknya di kota Tuban. Ia berjanji tidak memungut biaya atas pengobatan ini karena dirinya memang tergerak untuk menolong Bastiawan setelah tahu apa yang dialami sang bocah. “Saya prihatin, kok sampai seperti ini pemerintah tidak tanggap. Padahal, puskesmas atau tempat kesehatan lainya tidak jauh dari rumahnya. Karena itu, saya sengaja datang langsung ke rumah Bastiawan,” ujar Bambang.

Usai mememeriksa Bastiawan dan berbincang banyak dengan keluarga, kamipun berpamitan. Bagaimana selanjutnya nasib bocah malang tersebut, saya sendiri hanya sempat memantau beberapa hari setelah hari itu. Mudah-mudahan, saat ini dia telah sembuh dan menjadi anak seperti pada umumnya sebagai generasi penerus bangsa.-emtovic-

9/17/2010

Ikutan Ngeblog (lagi)

2 komentar
Setelah tiga tahun tak pernah berurusan dengan yang namanya blog, hari ini aku mulai tertarik lagi untuk utak-atik kata dan posting-posting di internet via blog. Bukan tanpa alasan, kegemaran lama yang bersemi kembali ini berawal dari ulah beberapa teman yang beberapa hari terahir sibuk membuat blog dan memposting sejumlah hasil tulisan mereka.

Akhirnya, virus blogger itupun merasuk pada diri saya. Jumat (17/9//2010) ini akupun mulai membuat blog baru (maklum, yang lama tak bisa membukanya lagi karena sudah lupa email dan paswordnya) untuk menuruti kepingingan hati setelah tertular penyakit baru kawan-kawan yang biasanya sibuk bermain game online ama saya.

Di tengah perjalanan proses pembuatan halaman blog, sejumlah pertanyaan menggelayut dalam benakku. “Terus, kuisi dengan tulisan dan foto apa blog baruku ini?,” mungkin itu salah satu pertanyaan yang tertulis paling besar dalam tengkorak kepalaku saat ini.

Setelah ngelamun sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa batang rokok mild kegemaran, akupun membuka laptop untuk menuliskan apa aja guna mengisi halaman blog baru ini. Dan kuputuskan apapun hasilnya, tulisan ini akan menjadi posting pertamaku setelah beberapa posting percobaan yang kulakukan sebelumnya.

Aku berharap, blog dan tulisan ini menjadi awal bagiku untuk semakin giat belajar menulis. Apapapun itu. Yang penting aku pengen bisa menjadi seorang penulis. Entah cerpen, puisi, sajak atau apa, seng penting Nulis. –emtovic-

Banjir kok Sampai Dua Tahun

0 komentar
Agak tidak masuk akal memang, tapi inilah kenyataan yang terjadi di Desa Kedungharjo, Tegalrejo dan Desa Simorejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban. Banjir yang melanda sejak tahun 2008 lalu, masih menyisakan kesedihan bagi para petani di tiga Desa tersebut hingga di penghujung tahun 2010.

Terhitung, ada lahan pertanian seluas kurang lebih 80 hektare yang masih tergenang air bercampur lumpur dengan ketinggian sekitar 70 sentimeter. Padahal, pada tahun 2009 lalu pemerintah sudah melakukan pengerukan lahan itu dengan kucuran dana sebesar Rp3,5 miliar dari APBN. Namun, sampai saat ini lumpur bercampur air masih jadi pemandangan menyedihkan di sana.

Di Desa Tegalrejo, lahan pertanian sekitar 50 hektar hingga saat ini masih terendam air setinggi 70 cm. Menurut warga, hal ini disebabkan karena upaya pengerukan lahan tidak dilakukan secara maksimal. Bahkan, beberapa kalangan menilai bahwa pengerukan hanya dilakukan asal-asalan saja. Demikian halnya di Desa Kedungharjo. Lahan pertanian seluas 30 hekatar hingga saat ini juga masih tergenang air dengan ketinggianya hampir 70 cm.

Banjir tersebut berawal pada peristiwa banjir terbesar di Kecamatan Widang yang terjadi tahun 2008. Ketika itu, tanggul Bengawan Solo jebol dan air meluber ke berbagai perkampungan penduduk serta membanjiri ratusan hektar lahan pertanian di sana. Kendati banjir sudah berlalu dari sejumlah permukiman penduduk, air bercampur lumpur di area pertanian ini masih tetap bertahan. –emtovic-

Contoh Kecil saat Alam Mengamuk

0 komentar

Air dan angin merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, ketika keduanya mengamuk, maka musibahlah yang sedang menyapa kita. Di Bojonegoro, beberapa hari lalu alam memberi contoh kecil bagaimana jadinya saat ia mengamuk.

Hujan deras bercampur angin kencang memporak-porandakan sejumlah permukiman penduduk. Jerit tangispun bercampur menjadi satu dengan suara gemuruh kemarahan putting beliung yang sedang menyapa Ledok Kulon dan Desa Banjarrejo, Kecamatan Kota; Desa Sranak, Kecamatan Trucuk; dan Desa Tumbras, Kecamatan Kedungadem, Minggu (13/9/2010).

Dua rumah roboh di Keluarhan Ledok Kulon, bangungan SDN II Banjarejo, Bojonegoro rusak parah, dan puting beliung juga menerjang gedung SDN Tumbrasanom, di Kecamatan Kedungadem. “Ada enam ruang kelas di sekolahan ini ambruk setelah disapu angin. Paling parah adalah ruang kelas V,” kata Camat Kedungadem, Ali Mahmudi sesaat setelah kejadian.

Selain itu, puluhan rumah warga di empat desa tersebut juga kebanyakan mengalami rusak di bagian atapnya. Di Kelurahan Ledok Kulon ada empat rumah yang atapnya porak-poranda. Yakni rumah milik Kusno, Jalidin, Sukimin, dan Salim. Dan di Desa Sranak, sedikitnya ada 60 rumah warga yang juga rusak parah di bagian atapnya setelah terhempas angin.

Jika dibandingkan dengan bencana alam lain yang terjadi selama ini, kejadian ini bisa dibilang merupakan bencana kecil akibat kemarahan alam. Namun, paling tidak kita mendapat pelajaran penting bahwa apa yang setiap saat kita rasakan kenikmatanya itu sewaktu-waktu bisa berubah menjadi petaka. –emtovic-