skip to main | skip to sidebar
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan

9/09/2011

Kiai Mancung, Tradisi Sedekah Laut di Pesisir Tuban

0 komentar
Satu tradisi yang masih dilestarikan warga pesisir Kota Tuban hingga saat ini adalah ritual Kiai Mancung. Sebuah kegiatan sedekah laut dengan cara menancapkan kepala Kerbabau di atas cagak kayu di pinggir pantai tempat sejumlah perahu nelayan bersandar.

 Puluhan nelayan di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota, Tuban berkumpul di pinggiran pantai yang terletak di utara pusat Kota Tuban. Mereka nampak serius mengamati tiga orang sesepuh nelayan sedang membersihkan kepala Sapi yang sudah terpotong dengan air yang dicampur kembang dan wewangian. Ternyata, kegiatan ini merupakan awal dilaksanakanya ritual Kiai Mancung, sebutan warga untuk acara sedekah laut yang dilaksanakan setiap tahun.               

Diakui sejumah warga, traidisi peninggalan leluhur yang diyakini untuk penolak balak dan kelanggengan sumber pencaharian nelayan ini sudah banyak mengalami pergeseran. “Kalau dulu, ritual ini dilaksanakan setiap hari Rabu Pon bulan Rojab setiap tahun. Dan yang dipancung adalah kepala Kerbau, bukan Sapi,” kata Sutaim, 60, sesepuh nelayan Karangsari.

Seperti tahun sebelumnya, pelaksanaan sedekah laut tahun ini para nelayan di sana baru bisa melaksanakanya pada bulan Syawal. Hal ini lantaran pendapatan nelayan sudah banyak berkurang sehingga mereka merasa kekurangan dana untuk urunan guna pelaksanaan sedekah laut. Bahkan, gara-gara minimnya dana yang ada, beberapa waktu lalu sempat diputuskan untuk tidak melaksanakan ritual ini.

Namun, acara ritual ini tetap dilaksanakan atas desakan sejumlah sesepuh kampung yang telah mengalami berbagai kejanggalan saat melaut. “Memang, awalnya sudah mau kita tiadakan, tapi para sesepuh melihat ada keanehan saat melaut. Seperti melihat pertanda bahwa ada permintaan makanan,” terang Abdul Muin, coordinator acara ini. “Karena itu, kita putuskan untuk segera melaksanakan acara ini meski dibilang terlambat,” sambungnya di sela acara.

Diceritakanya, acara Kiai Pancung ini berlangsung selama dua hari dengan diawali pemotongan kepala Kerbau, melekan sampai pagi dan acara larung sesaji pada keesokan harinya. Tapi dengan keterbatasan dana yang ada, pihak panitia memutuskan untuk mengganti kepala Kerbau dengan kepala Sapi. “Yang penting niatnya,” ujar Muin.

Usai dibersihkan dengan air yang dicampur kembang, kepala sapi tersebut diarak keliling kampong di sepanjang pesisir. Selanjutnya, dua orang sesepuh  nelayan membakar menyan, memasang kembang-kembangan dan minyak serimpi di pinggir laut kemudian dilanjutkan dengan penancapan kepala sapi menghadap ke laut di atas tiang yang sudah disediakan. Kepala sapi ini dibiarkan di tempat pemancungan sampai hancur dan hilang dengan sendirinya.

Setelah itu, malam hari tadi para nelayan berkkumpul di pinggir pantai untuk begadang bersama sampai pagi. Dan puncaknya, pada Rabu pagi ini semua nelayan libur melaut untuk melaksanakan ritual bersama. Yakni, melaksanakan larung sesaji yang terbuat dari sejumlah panganan, kembang-kembang dan sebagainya. “Semua ini kita yakini bisa menjadi tolak balak dan melancarkan kegiatan di laut yang merupakan mata pencaharian para nelayan,” sambungnya.emtovic

9/08/2011

Mayat Wanita Berjibab di Terminal Wisata

0 komentar

Tuban – Sesosok wanita berusia sekitar 40 tahun ditemukan tergeletak tak bernyawa di pinggir pantai Terminal Wisata Tuban, Kamis (8/9) sore. Ketika ditemukan oleh sejumlah warga, mayat wanita itu masih mengenakan pakaian lengkap, termasuk jilbab warna merah dan baju terusan kombinasi merah dan hitam yang dikenakannya.

Warga yang mengetahui ada mayat tergeletak di pinggir pantai itu langsung melapor ke pihak kepolisian. Dan tak sampai lama, petugas yang dipimpin langsung oleh Kapolres Tuban AKBP Nyoman Lastika tiba di lokasi kejadian. Saat diperiksa, jenazah korban masih utuh. Hanya nampak perut yang membuncit lantaran kemasukan air laut dan hanya terdapat beberapa luka ringan di bagian wajahnya.

Menurut Nyoman, dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ada dugaan bahwa wanita malang tersebut merupakan korban pembunuhan.  “Dari luka yang ada, kemungkinan kuat korban tewas akibat terjatuh atau sebagainya. Tapi, tanda-tanda yang mengarah ke pembunuhan belum ditemukan,” terang Kapolres Nyoman di lokasi kejadian.

Selanjutnya, jenazah wanita berjilbab tersebut dimasukkan dalam kantong mayat dan dilarikan ke kamar jenazah RSUD dr R Koesma Tuban. “Kita masih butuh pemeriksaan medis terlebih dulu untuk menyimpulkan kejadian ini. Termasuk juga mencari keterangan dari sejumlah saksi guna menemukan identitas korban,” sambung Nyoman.

Sejumlah warga yang berkerumun di lokasi kejadian juga mengaku tidak ada yang kenal dengan wajah perempuan yang terbujur kaku tersebut. “Saya kira bukan warga sini. Soalnya, semua warga di sekitar mengaku tidak ada yang kenal dengan perempuan tersebut,” jawab Ari, salah satu warga di lokasi kejadian.emtovic

Sampah TPA Dipindah ke Kampung

0 komentar
Tuban – Tiga minggu belakangan, ribuan kubik sampah terlihat berserakan di beberapa lahan kosong di Dusun Dondong, Desa Gedungombo, Kecamatan Semanding, Tuban. Sampah-sampah itu berasal dari TPA (Tempat Pengolahan Akhir) sampah milik Pemkab Tuban di desa setempat yang sengaja dipindahkan ke kampung dengan dalih untuk digunakan pupuk kompos.

Pantaun di lokasi, Kamis (8/9) siang, ada tiga lahan kosong dengan luas ratusan meter yang digunakan untuk menumpuk sampah. Tak tanggung-tanggung, tumpukan sampah itu tingginya ada yang lebih dari satu meter. Dan diperkirakan, volumenya pun mencapai ribuan kubik sampah basah dan kering dengan berbagai jenis. Lokasi penumpukan sampah di lahan-lahan kosong diantara rumah-rumah penduduk ini berjarak hanya beberapa puluh meter dari TPA yang terletak di sebelah utara perkampungan.

Di salah satu lokasi, nampak seorang pekerja berusaha meratakan sampah di lahan kosong menggunakan alat berat. Sementara di rumah-rumah penduduk, terlihat sejumlah ibu-ibu dan beberapa anak bermain di halaman. Bau busuk dari tumpukan ribuan kubik sampah yang menyengat, ditambah banyaknya lalat berkeliaran memaksa mereka harus ekstra sabar untuk tetap bertahan di kampung yang sudah puluhan tahun ditinggalinya.

Susi Ernawati (23), ibu rumah tangga yang rumahnya berdampingan lansung dengan salah satu lokasi penumpukan sampah di Dusun Dondong mengaku sudah hampir tidak kuat dengan kondisi ini. Saban hari, ia dan keluarga harus menahan bau tidak sedap sampah yang ada di samping rumahnya. “Tapi mau bagaimana lagi, wong kita memang sehari-hari tinggal di sini,” kata ibu dua anak tersebut.

Diceritakannya, sampah-sampah itu mulai dikeluarkan dari TPA menggunakan truk dan ditumpuk di lahan dekat rumahnya sejak sekitar tiga minggu lalu. Dirinya dan keluargapun diberitahu oleh pihak RT baru setelah sampah tersebut menumpuk di dekat rumahnya. Dan sejak saat itu, ia bersama keluarga dan puluhan warga lain harus mencium bau tidak sedap sepanjang waktu. “Setelah ada banyak tumpukan sampah, kami baru diberi tahu. Katanya, sampah-sampah ini akan digunakan pupuk,” ujarnya.

Akibat bau tidak sedap, banyak warga yang sampai mual dan pusing. Bahkan, tak sedikit yang sampai muntah-muntah. Selain itu, sepanjang waktu juga banyak sekali lalat yang berkeliaran di kampung. Tentunya, kondisi tersebut sangat tidak nyaman dirasakan oleh siapapun.

Beberapa warga lain yang ditanya tentang kondisi ini juga membenarkan bahwa mereka diberitahu bahwa sampah-sampah itu ditumpuk di sana untuk digunakan pupuk. Namun, seperti apa kejelasan dari proses pemindahan sampah dari TPA ke permukiman penduduk tersebut, mereka mengaku sama sekali kurang paham.

Terpisah, Rustomo selaku Kasi Kebersihan dan Persampahan, Bidang Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemkab Tuban menyampakan bahwa sebagaimana ketentuan yang ada memang tidak diperbolehkan untuk memindahkan sampah dari TPA ke permukiman penduduk. Namun, terkait kondisi di Dusun Dondong, pihaknya juga berdalih bahwa sampah-sampah itu dipindah untuk dijadikan pupuk. “Pemindihan itu atas permintaan beberapa warga yang akan menggunakan pupuk. Namun, kita akan evaluasi lagi hal itu jika ada warga lain yang mengeluh,” jawabnya.

Menurutnya, ada sekitar 5 orang warga yang meminta sampah itu dipindah ke lahan mereka dengan alasan untuk dijadikan pupuk. Anehnya, meski tahu bahwa hal itu tidak diperbolehkan, Pemkab tetap memperbolehkan pemindahan sampah dari TPA ke permukiman penduduk.

Terkait keberadaan TPA sendiri, Rustomo menjelaskan bahwa TPA Tuban luasnya hanya sekitar 2 hektar. Dimana, kapasitas itu dianggap tidak mampu untuk menampung sampah yang saban hari masuk dengan volume sekitar 160 sampai 170 kubik. “Di daerah mana-mana, masalah sampah memang sulit untuk diatasi. Banyangkan saja, warga mana yang mau wilayahnya digunakan untuk tempat penampungan sampah?. Padahal, setiap hari ada sampah yang harus ditampung dan diolah dengan jumlah yang tidak sedikit,” kilahnya.emtovic

5/29/2011

el-barca luar biasa

0 komentar
Komentar itu pantas diberikan kepada klub Catalonia ini. Mereka tidak hanya memamerkan permainan cerdas dan efektif, tetapi juga menghiasi reputasinya dengan berbagai gelar.

Terlepas dari tuduhan bahwa pemainnya suka berlebihan jika ditekel lawan, Barcelona tetap menunjukkan sebagai tim hebat yang sulit dicari tandingannya. Wajar jika klub sebesar Manchester United (MU) dipaksa bertekuk lutut 1-3 di Stadion Wembley dalam final Liga Champions 2010-11, Sabtu atau Minggu (29/5/2011) dini hari WIB.

Ada banyak hal dari sisi "El Barca" yang pantas mendapat pujian. Secara tim, mereka memiliki sistem permainan yang sangat rapi. Hebatnya, sistem ini tak mudah dirusak oleh siapa pun dan dengan cara apa pun.

Pressing football yang diperagakan MU di awal pertandingan memang sempat membuat Barca kesulitan berkembang. Tetapi, hebatnya, dalam waktu singkat, Barca langsung mampu mengatasinya. Sistem dan gaya permainan Barca pun muncul semakin sempurna, yang memaksa MU untuk ganti bertahan. Statistik menunjukkan, Barca menguasai 68 persen permainan dan MU hanya kebagian 32 persen.

Permainan ini menjadi kuat karena didukung kekompakan yang tak kalah luar biasa. Semua pemain Barca seperti menyatu jiwa dan raga untuk bergerak, berpenetrasi, dan bertahan, tanpa harus diteriaki. Semua seolah berjalan secara otomatis meski dalam alur gerakan yang cepat.
Kekompakan itu juga didukung kemampuan dan keterampilan individu yang nyaris sempurna. Umpan, terobosan, kontrol bola, dan penyelesaian Barcelona sangat akurat dan rapi meski dalam tempo yang cepat. Ini yang membuat permainan Barcelona sangat efisien. Soal hal ini, rasanya Barca belum ada bandingnya. Pemain lawan pun kesulitan menahan gempuran Barcelona. Sebab, naluri dan gerak serangan mereka lebih cepat daripada naluri dan gerakan lawan dalam bertahan.

Ketenangan menjadi salah satu unsur kelebihan Barcelona. Ketika menguasai bola, mereka tak mudah panik oleh tekanan lawan sehingga, meski tertekan, mereka masih punya kemampuan berkelit, kemudian melepaskan diri entah dengan cara gocekan dan gerak tipuan, maupun dengan cara langsung mengumpan bola dengan cepat. Sehingga, serangan Barcelona tetap bisa mengalir.

Ini semua hanya bisa dilakukan dengan kecerdasan bermain yang tinggi. Dan, Barcelona memilikinya. Aktor utamanya adalah Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Lionel Messi. Namun, secara keseluruhan permainan Barca memang cerdas. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga berpikir. Mereka tidak hanya bergerak atau menendang, tetapi juga kreatif.

Soal mental, Barca bisa dikatakan sangat kuat. Para pemain bermain untuk mengejar kemenangan, tidak peduli siapa pun lawannya dan tampil di mana pun. Mereka juga tidak mudah terprovokasi dan memiliki pribadi-pribadi yang tenang, seperti Lionel Messi, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, David Villa, Carles Puyol, dan Gerard Pique. Kalaupun ada pemain yang suka meledak-ledak, itu adalah Daniel Alves dan Victor Valdes. Namun, itu pun masih dalam kontrol.

Barcelona selalu bekerja keras dan lapar gelar. Itu diungkapkan oleh striker David Villa, "Jika ingin tahu, kami tak pernah bersantai. Terus bekerja keras dan lapar gelar."

Wajar jika muncul penilaian bahwa Barcelona adalah tim terbaik dekade ini. Sebab, mereka telah menunjukkan permainan menyerang yang menghibur dan mampu menyelesaikan misi dengan menjuarai beberapa gelar.

Sukses mereka menjuarai Liga BBVA dalam beberapa musim dan menjuarai tiga Liga Champions dalam lima tahun terakhir adalah bukti kuat.

Manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, pun mengakui kehebatan Barca. "Sepanjang karier saya menjadi manajer, Barcelona adalah lawan terberat. Mereka bermain sangat bagus dan menikmati sepak bola," pujinya. Kompas.com


11/19/2010

Kebacut... Tahu 150 TKW Panik, Rombongan DPR Ngeloyor ke Mobil Sewaan

2 komentar
Cerita pilu Sumiati, tenaga kerja wanita (TKW) yang disiksa majikan di Arab Saudi, menghiasi pemberitaan media. Sikap abai ternyata tidak hanya dilakukan majikan yang kejam di negeri orang. Para wakil rakyat, yang menjadi Anggota DPR RI pun menunjukkan sikap abai saat rakyat yang memilihnya tengah kelimpungan di negeri seberang.

Rombongan Anggota DPR yang tengah kunjungan kerja ke Moskwa, Rusia, dilaporkan ”menelantarkan” 150-an TKW Indonesia yang kebingungan di Dubai. Di antara TKW itu ada yang kedua tangannya melepuh karena disiram air keras oleh majikan di Arab Saudi. Seorang TKW lain mengalami pendarahan di perut.

”Mereka egois sekali. Tidak ada satu pun peduli dengan nasib rakyat yang mereka wakili yang tengah kebingungan. Mereka menelantarkan para TKW di Dubai,” tutur Adiati Kristiarini, warga Indonesia yang mendampingi para TKW, dalam perbincangan dengan kompas.com beberapa waktu lalu.

Adiati menceritakan, peristiwa itu terjadi Sabtu (6/11). Ia bersama suaminya transit di Bandara Dubai dalam penerbangan New York-Jakarta. Di Gate 206, mereka menunggu keberangkatan Pesawat Emirates nomor penerbangan EK 358 tujuan Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 10.25 waktu setempat.

Di situ, menunggu pula rombongan TKW 150-an orang. Para TKW itu tak saling kenal dan tidak pergi dalam satu koordinasi kelompok. Secara kebetulan saja mereka bertemu di bandara. Ada juga rombongan anggota DPR hendak pulang seusai studi banding di Rusia.

Sekitar 30 menit menunggu, tutur Adiati, ada pengumuman bahwa penerbangan ke Jakarta dibatalkan karena lalu lintas udara Indonesia tidak aman akibat letusan Merapi. Para penumpang lalu diarahkan menuju hotel. Dari sinilah kepanikan dimulai. Para TKW bingung. Mereka tak tahu harus berbuat apa, sementara petugas Emirates kurang informatif.

Menurut Adiati, sebelum tiba di hotel yang terletak di luar bandara, mereka harus melewati sejumlah prosedur. Inilah yang membingungkan TKW, sebab banyak di antara mereka tak bisa berbahasa Inggris. ”Saya dan beberapa orang Indonesia lain lalu berinisiatif membantu mereka,” ujarnya.

Agus Safari, seorang peneliti yang juga transit di Dubai dari Rusia, menceritakan dalam e-mail-nya kepada kompas.com, prosedur dari bandara menuju hotel memang berbelit. Pertama, penumpang antre mendapatkan visa sponsorship. Setelah itu cek imigrasi. Mereka lalu harus ke loket untuk cap kartu visa. Kemudian antre scan mata di satu sudut yang cukup jauh dari counter cap.

Sejumlah orang Indonesia, tutur Agus, spontan mengarahkan para TKW yang bingung. Di tengah keriuhan, menurut Agus, rombongan anggota DPR tampak duduk berkelompok di ruang tunggu, sementara kartu visa mereka dikerjakan agen tur mereka. Agus mengenali mereka anggota DPR, sebab ia satu pesawat dalam penerbangan dari Rusia. Temannya di Kedutaan Besar Rusia memberi tahu Agus soal rombongan itu.

”Saya heran, kok mereka tak tergerak ya mengatasi rakyat yang memilih mereka sedang panik dan bingung. Mereka hanya tertawa dan ngobrol. Masya Allah…,” cerita Agus.

Di antara orang Indonesia yang membantu TKW ada juga Riny Konig. Ia transit di Dubai dalam penerbangan dari Swiss. Menurut Riny, karena kesulitan komunikasi, banyak TKW yang dibentak petugas bandara. ”Di sebelah saya ada orang-orang Indonesia dengan paspor biru. Mereka diam saja melihat para TKW dibentak-bentak,” tutur Riny beberapa waktu lalu.

Rombongan penumpang Emirates itu akhirnya tiba di Hotel Holiday Inn, Sabtu (6/11). Di sini, para TKW kembali gaduh. Mereka bingung urusan pembagian kamar. Riny Konig, Adiati, Agus, dan sejumlah orang Indonesia turun tangan lagi.

Riny menuturkan, saat mereka sibuk mengoordinasi TKW, tiba-tiba seorang perempuan menegurnya. ”Bu, tolong dong dibilangin rombongannya jangan ribut, malu-maluin negara aja, kan enggak enak,” tegur perempuan itu kepada Riny.

”Rombongan mana, Bu?” tanya Rini. ”Itu, rombongan TKW,” kata perempuan itu.

”Lha, saya bukan TKW, Bu. Saya ini ingin pulang ke Indonesia, berlibur, kebetulan bertemu mereka. Mereka ribut karena bingung, banyak yang bertahun-tahun enggak pulang, kasihan. Ibu mau liburan juga?” tanya Rinny.

”O enggak, saya baru pulang dari Moskow, tugas negara,” kata perempuan itu. Belakangan, Riny tahu perempuan itu adalah anggota DPR yang habis studi banding di Moskwa.

Tangan Melepuh
Adiati menceritakan, di antara TKW ada seorang yang kedua tangannya melepuh disiram air keras oleh majikannya di Arab Saudi. Matanya merah karena dicolok majikan. ”Dia dari Karawang. Baru seminggu kerja sudah mendapat kekerasan. Ia tak punya uang sama sekali. Cuma bawa tas kecil berisi dua pakaian. Ia diam terus. Kasihan sekali,” tuturnya.

Ada pula seorang TKW mengalami pendarahan perut. Namanya Ipah. Adiati yang mendampingi Ipah selama di hotel menceritakan, Ipah terus berbaring selama menunggu kepastian terbang.

”Tidak ada satu pun anggota Dewan yang terhormat itu menaruh perhatian pada nasib dua TKW ini,” ucap Adiati kesal.

Esoknya, Minggu (7/11), ”relawan” Indonesia dan para TKW ”konsolidasi” di lobi hotel, supaya mudah koordinasi jika ada pengumuman kapan pesawat ke Jakarta akan terbang.

Adiati menuturkan, saat para ”relawan” sibuk mendata TKW, seorang lelaki berdiri menonton. ”Spontan saya bilang ke dia, Pak, mestinya Bapak yang ngurusin para pahlawan devisa ini, kan Bapak anggota DPR. Ini di depan mata Bapak jelas-jelas ada rakyat Bapak kesusahan, kasihan kan,” kata Riny.

”Maaf, Bu. Saya bukan anggota DPR,” kata lelaki itu. Ia mengetahui kemudian, lelaki itu adalah petugas agen travel yang mengurus perjalanan rombongan DPR. Lelaki itu lalu berbalik dan bergabung dengan rombongan DPR. Beberapa orang dari mereka sempat menoleh saat ia berbicara dengan lelaki dari agen travel itu. ”Mereka malah ngeloyor keluar menuju mobil sewaan,” kata Rini.

Minggu sore, mereka mendapat kabar pesawat berangkat pukul 01.00 waktu Dubai. Kembali terjadi kegaduhan. ”Tidak semua TKW dapat terangkut oleh bus yang disediakan. Jadi kami berangkat bertahap ke bandara,” ujar Agus.

Agus heran, di bandara ia tidak melihat seorang pun rombongan DPR. ”Rupanya mereka sudah pulang naik penerbangan pukul 20.00,” kata dia.

Menurut catatan kompas.com, anggota DPR yang ke Rusia adalah rombongan Komisi V yang studi banding terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Rumah Susun. Selain ke Rusia, Komisi V juga studi banding yang sama ke Italia.

Informasi yang dihimpun kompas.com, anggota rombongan itu terdiri dua dari FPAN, 4 dari F-Golkar, 4 dari F-Demokrat, 2 dari FPDIP, 1 dari FPKS, 1 dari FPPP, 1 dari FPKB, dan 1 dari Fraksi Gerindra.

Sekjen DPR Nining Indrasaleh, Selasa (2/11), mengatakan, anggota Komisi V itu berangkat 1 November. Nining mengungkapkan, anggaran untuk ke luar negeri ini untuk satu pembuatan UU Rp 1,7 miliar.

Nining menjelaskan, sesuai Peraturan Menteri Keuangan No 01/PM02/2009 tentang standar biaya umum 2010, anggota DPR mendapat jatah uang harian 509 dolar AS per hari. Uang harian itu mencakup transportasi lokal, biaya makan, hotel, termasuk uang saku.

Sebelumnya, banyak kecaman terhadap anggota DPR ke luar negeri. Kecaman kian kencang setelah bencana menghantam di berbagai daerah. Parpol pun telah melarang kadernya ke luar negeri. Namun, larangan itu hanya angin lalu.kompas.com

"Harry Potter and the Deathly Hallows" Bakal Laris Manis

0 komentar
Sejumlah pengamat industri film memprediksi film terakhir Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 akan menuai sukses di tangga film box office di kawasan Amerika Utara.

Bahkan Studio Warner Bros cukup percaya diri bahwa film tersebut bisa meraup 100 juta dollar AS di Amerika dan Kanada selama tiga hari pertama penayangannya di bioskop. Seri pertama dari dua seri film terakhir Harry Potter ini  mulai ditayangkan pada Jumat (19/11/2010). Warner meyakini animo terhadap film ini cukup besar. Bahkan memprediksikan penghasilan menyeluruh senilai lebih dari 1 miliar dollar AS dari penjualan tiket secara global.

Berdasarkan catatan BoxOfficeMojo.com yang berbasis di California, enam film terdahulu yang didasarkan pada buku laris tentang bocah penyihir karya JK Rowling, itu telah mengantongi pendapatan sebesar 5,42 miliar dollar AS di seluruh dunia.

Dan Fellman, Kepala Distribusi Domestik Warner Bros, mengatakan film itu harus meraup lebih dari 100 juta dollar AS di AS dan Kanada selama akhir pekan pertamanya di bioskop. Dia memperkirakan secara keseluruhan penghasilan dari penjualan tiket di seluruh dunia akan mencapai lebih dari 1 miliar dollar AS. "Saya yakin pasti akan (tercapai)," katanya.

Paul Dergarabedian, pengamat box office di Hollywood.com juga meyakini hal tersebut. "Ini akan menjadi pembukaan terbesar. Ini dapat melampaui penghasilan sebesar 102,7 juta dollar AS, yang diperoleh dalam pembukaan seri Harry Potter  and The Goblet of Fire  pada 2005," kata Dergarabedian.

"Film ini adalah awal dari akhir Harry Potter yang fenomenal dan puncak dari satu dekade. Sulit untuk tidak meletakkan target-target tinggi tentangnya," kata Degarabedian kepada Reuters.

Penjual tiket dalam jaringan di AS, Fandango, Rabu, mengatakan bahwa lebih dari 2.200 tiket untuk Harry Potter, the Deathly Hallows: Part 1 telah terjual habis sebelum pembukaan hari Jumat mendatang.

Sementara menurut MovieTickets.com, the Deathly Hallows berada di urutan kelima tiket terlaris sepanjang masa, tepat berada di belakang Harry Potter and Half Blood Prince.

Film ketujuh dan sebagian dari seri terakhir petualangan Harry dan teman-teman sekolahnya di Hogwarts akan mendapatkan tempat terbesar di Imax. Imax mengatakan bahwa  the Deathly Hallows  akan dibuka pada 239 layar Imax di Amerika Utara, dan 117 layar internasional.kompas.com

11/17/2010

Mereka Pahlawan Bencana

0 komentar
Irfan Yusuf baru usai salat maghrib ketika seorang kawan mengabarkan terjadi erupsi di Gunung Merapi, Selasa, 26 Oktober 2010. Tanpa pikir panjang, ia segera memacu kendaraannya dari kota Yogyakarta menuju Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Di tengah sayup-sayup raungan sirine tanda bahaya, niatnya terhenti di barak pengungsian Umbulharjo, sekitar lima kilometer menjelang Kinahrejo. Kepanikan melanda. Sejumlah warga menangis histeris kehilangan kontak dengan sanak keluarga.

“Yang ada di pikiran hanya bagaimana menemukan orang-orang hilang itu dalam kondisi selamat,” kata anggota tim SAR itu.

Keputusan nekat diambil. Sekitar pukul 20.00, bersama empat anggota SAR dan tiga warga setempat, Irfan mendekati Kinahrejo. Mereka menantang maut di tengah muntahan awan panas yang belum tuntas.

Semakin dekat, hawa panas dan ruap belerang menyeruak. Kobaran api pun mulai tampak memecah kegelapan malam. Dan, mimpi buruk itu terjawab di perbatasan dusun.

Sejauh mata memandang, hanya ada tarian api melumat pepohonan, kendaraan, juga bangunan. Bertabur abu pekat, dusun itu hancur. Bangunan terbakar. Pohon bertumbangan. Tubuh-tubuh tak bernyawa bergelimpangan di jalan masuk dusun. Lamat-lamat, rintihan memilukan terdengar.

Hanya berpelindung masker hidung, mereka menerobos ‘neraka’ di hadapan mata. "Suasananya panas sekali, abu pekat. Kami berpijak di potongan-potongan kayu yang berserak. Tanah panas. Sepatu teman saya saja sampai meleleh dan kakinya melepuh," kata Irfan.

Naluri mengantar mereka pada sumber rintihan. Tujuh orang masih bernyawa dengan luka bakar cukup serius. Tandu darurat dari sarung, dan potongan dahan dipakai menggendong mereka. "Kami bonceng dengan sepeda motor sampai ada mobil yang membantu membawanya ke rumah sakit," ujarnya.

Evakuasi tujuh korban hidup selesai. Irfan dan empat anggota SAR lainnya masuk ke area lebih dalam. Berharap menemukan korban hidup. Mereka menyisir keberadaan Mbah Marijan yang ketika erupsi masih salat di masjid. Tapi, nihil.

Di sekitar masjid dan rumah Mbah Marijan, mereka hanya menemukan empat jasad hangus. "Setelah Mas Iman Surahman dari Dompet Dhuafa datang, saya baru tahu kalau salah satunya adalah jasad wartawan VIVAnews Yuniawan Wahyu Nugroho," ujarnya.

Di tengah situasi mencekam, sejumlah relawan segera mengevakuasi jasad-jasad itu ke rumah sakit.

Dilindungi mayat
Seperti bermain petak umpet dengan maut, relawan seperti Irfan harus siap dengan perhitungan risiko mengancam jiwa. Tak jarang mereka tewas di medan bencana. Seperti kisah lima relawan yang meninggal, saat melakukan evakuasi korban di lereng Merapi.[Baca juga Bekal Terakhir dari Ibu]

Meski begitu, bukan ancaman nyawa yang membuat relawan ciut, tapi justru pemandangan menyentuh hati. "Saya paling nggak tega kalau melihat jasad wanita dalam kondisi memeluk anak. Tentara saja banyak yang nggak tega mengevakuasi," kata Irfan. "Ini banyak kami temui di Merapi dan gempa Yogya."

Rasa sentimentil itu juga merayap pada Sigit Agung Maryunus. Emosi anggota Palang Merah Indonesia (PMI) ini tak jarang diaduk-aduk saat menyaksikan pemandangan memilukan di hadapan mata. "Saya kuat di alam, saya tegar, tapi saya juga manusia yang bisa menangis," ujar lelaki yang lebih 20 tahun mengabdi sebagai relawan bencana.

Sigit masih menyimpan kenangan saat membantu korban gempa bumi di Yogyakarta, 2006. Kala itu, ia tengah berjuang mengeluarkan korban meninggal dari reruntuhan rumah saat bumi kembali bergoyang.

"Tiang beton rubuh menghantam jasad itu sampai darahnya muncrat ke tubuh saya. Saya terlindung jasad itu. Saya sangat berterima kasih kepada jasad itu karena telah menyelamatkan saya," ujar Sigit menahan isak. “Sudah meninggal tapi masih bisa menyelamatkan nyawa orang lain.”

Bagi Irfan dan Sigit, menjadi relawan bencana bukan aktivitas mudah. Mereka seringkali dihadapkan pada kondisi sulit, mengancam jiwa dan menguras emosi. Tapi, pekerjaan ini seperti sebuah panggilan hidup.

Bagi Irfan dan Sigit misalnya, menjadi relawan bencana adalah panggilan hidup mereka sejak masih belia. Kepekaan terhadap alam dan rasa kemanusiaan Irfan terasah sejak bergabung di organisasi pecinta alam semasa kuliah. Irfan  kerap terlibat pencarian orang hilang di gunung.

Panggilan itu kian akrab. Dia memutuskan bergabung dengan tim SAR enam tahun silam. "Saya sempat dikirim menangani korban di sejumlah area bencana seperti tsunami di Aceh 2004, juga gempa bumi di Yogyakarta 2006," kisah lelaki 29 tahun ini.

Sementara Sigit memberanikan diri bergabung sebagai relawan PMI semasa duduk di bangku SMA, 1990. "Panggilan jiwa saja tidak cukup. Saya pikir, saya juga butuh obat-obatan untuk menolong, makanya saya masuk ke PMI," ujar pria kelahiran 1974 ini.

Sayap-sayap malaikat
Tak semua relawan berada di 'garis depan' seperti Irfan dan Sigit. Banyak relawan yang tersebar, mulai dari pos pengungsian, posko kesehatan, hingga dapur umum. Mereka terjun sesuai keahlian masing-masing, peran mereka tak kalah penting bagi korban bencana.

Seperti Ariyo Faridh, 30 tahun, yang terlibat memulihkan trauma anak-anak korban bencana di sejumlah daerah. Ia terjun ke sejumlah medan bencana seperti Aceh, Bengkulu, Pangandaran, Tasikmalaya, Situ Gintung, dan Merapi. "Saya terlibat melalui terapi dongeng untuk anak-anak," ujarnya.

Setiap kali mendengar bencana besar, Ariyo segera mencari 'kendaraan' seperti lembaga swadaya agar mudah menjangkau korban bencana. Demi panggilan jiwanya, ia tak sungkan membolos kerja, atau cuti untuk menghibur anak-anak korban bencana. "Saya kecanduan cari pahala," ujarnya sambil tertawa.

Jalan sama juga pernah dialami Iman Surahman. Sebelum memegang amanah memimpin Disaster Management Center Dompet Dhuafa, dia keluar masuk area bencana sebagai pendongeng.

"Saya selalu menjadikan anak-anak lokomotif untuk mempercepat pemulihan trauma pascabencana. Saya ajak anak-anak bangkit menyemangati orangtuanya," ucap Iman, yang sudah menjelajah puluhan medan bencana skala kecil hingga besar di dalam negeri maupun mancanegara. 

Ada kenikmatan, dan rasanya  seperti candu, saat mereka berhasil mengubah situasi muram dan penuh tangis, menjadi senyuman. Atau membuat korban tergelak-gelak dengan cerita menghibur. Kondisi inilah membuat tali emosi terjalin antara relawan dan para korban.

“Bahkan, beberapa kali saya bawa anak-anak korban bencana sebagai oleh-oleh untuk istri di rumah. Ketika saya masuk ke lokasi bencana saya ingin mengikat hati saya di situ,” ujar lelaki yang kini mengasuh delapan anak angkat di kediamannya di kawasan Bekasi, Jawa Barat. [Baca wawancara Iman Surahman: "Menyelamatkan Sesama Seperti Candu"]

Kedekatan emosional dengan korban bencana juga membuat Ariyo tak kuat menahan haru. Saat itu sepucuk surat hinggap di rumahnya di Jakarta. Surat itu dari bocah korban bencana tsunami Aceh yang masih berusia empat tahun. Isinya cuma satu kalimat: ‘abang kelinci jangan lupa kasih makan wortel’. “Anak itu sepertinya lekat dengan tokoh kelinci, dari dongeng yang saya bawakan dulu,” ujar Ariyo.

Menolong tanpa pamrih, para relawan ini layaknya sayap-sayap para malaikat yang turun di tengah bencana. Mereka tak lelap meski lelah. Mereka bekerja dalam diam, dan ikhlas. Rasanya tak berlebihan kita menyebut mereka sebagai pahlawan.vivanews.com

Lagi-lagi, Perlakuan Memilukan Bagi TKI

0 komentar
Peristiwa memilukan kembali dialami pekerja asal Indonesia yang mengadu nasib sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di luar negeri. Kali ini terjadi di Arab Saudi.

Di mata majikan, Sumiati binti Salan Mustapa tampaknya tidak lagi dipandang sebagai manusia. Perempuan 23 tahun itu berkali-kali menerima siksaan hebat. Kasus ini mendapat perhatian besar di tanah air setelah suatu media massa di Arab Saudi akhir pekan lalu memberitakan nasib Sumiati. 

Harian The Saudi Gazzette mengungkapkan, sejak mulai bekerja pada 23 Juli 2010, Sumiati kerap menerima penyiksaan dari istri dan anak majikannya. Saat ini, Sumiati sedang dirawat di Rumah Sakit King Fadh di Kota Madinah. Lukanya sangat parah, sampai-sampai bibir bagian atasnya hilang, seperti luka gunting.
Sumiati merupakan TKI yang berasal dari Dusun Jala, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat. Dia berangkat ke Arab Saudi melalui PT Rajana Falam Putri dan tiba di Arab Saudi pada 18 Juli 2010.
Penyiksaan Sumiati itu turut membuat prihatin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia lalu memerintahkan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan para pejabat lain yang terkait agar serius menangani kasus Sumiati.

Penanganan itu termasuk dalam hal perawatan medis ataupun advokasi hukum. Khusus untuk upaya hukum terhadap majikan Sumiati, Yudhoyono minta agar hukum tidak dikaburkan. "Saya dengar ada upaya pengaburan. Jangan sampai hal ini terjadi. Saya ingin hukum ditegakkan," kata Yudhoyono sebelum Rapat Terbatas bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Kantor Presiden, Selasa 16 November 2010.

Presiden meminta agar tim diplomasi Kementerian Luar Negeri memberikan bantuan total kepada TKW yang baru tiga bulan berada di Arab Saudi itu.  "Segera kirim tim agar yang bersangkutan dapat perawatan medis terbaik," ucap Yudhoyono sambil meminta agar kasus penyiksaan terhadap TKI tidak terjadi lagi.

Pihak keluarga menuntut pertanggungjawaban sponsor yang memberangkatkan Sumiati. Sementara pihak rumah sakit merekomendasikan agar Sumiati menjalani operasi plastik.
***
Lembaga pejuang hak-hak pekerja Indonesia di luar negeri, Migrant Care, menilai bahwa terungkapnya kasus penganiayaan keji terhadap Sumiati menunjukkan pembiaran terhadap berbagai kekerasan dan pelanggaran HAM atas PRT migran.

"Tidak hanya kali ini saja, sudah terlalu banyak PRT Migran kita yang menjadi korban, namun pemerintah tidak menganggap ini sebagai persoalan serius yang menuntut perhatian dan tindakan kongkret agar tidak lagi ada korban yang berjatuhan," kata Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care dalam pernyataan resmi lembaga itu, Minggu 14 November 2010.

Kasus ini menunjukkan belum adanya kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi mengenai perjanjian (MoU) tentang perlindungan PRT migran asal Indonesia seperti Sumiati. Padahal, absennya proteksi hukum bagi buruh migran membuka ruang lebar untuk berbagai kekerasan dan pelanggaran terhadap mereka. Apalagi, menurut Migrant Care, kedua negara juga sama-sama belum mengakui konvensi ILO untuk perlindungan PRT.

Maka lembaga itu menuntut pemerintah RI harus segera mengirim nota protes diplomatik kepada Arab Saudi sebagai bentuk protes terhadap kebiadaban majikan Sumiati yang melewati koridor kemanusiaan sekaligus mengawal kasus ini untuk segera diproses melalui jalur hukum, dan memastikan tidak ada proses di luar itu.

Pemerintah Indonesia dan Saudi Arabia juga harus menjadikan kasus ini sebagai momentum untuk segera mengambil langkah kongkret bagi perlindungan PRT migran melalui pembentukan MoU yang mencerminkan prinsip-prinsip HAM dan decent work (kerja layak). Kemenakertrans RI juga dituntut melakukan investigasi terhadap proses penempatan Sumiati ke Saudi Arabia, yang diduga kuat menjadi korban sindikat trafficking atau penyelundupan manusia.

Pemerintah, melalui Kementrian Luar Negeri (Kemlu), pernah mengungkapkan hambatan yang sering ditemui dalam  soal perlindungan WNI atau pekerja migran di luar negeri.

Mantan Direktur Perlindungan WNI dari Kemlu, yang kini menjadi Konsul Jenderal RI di Hong Kong, Teguh Wardoyo, dalam wawancara yang dimuat VIVAnews beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa di beberapa negara tujuan penempatan, pekerja asing yang bergerak di sektor informal tidak dilindungi oleh Hukum Perburuhan atau Ketenagakerjaan setempat.

Selain itu, minimnya pendidikan sebagian besar TKI yang bergerak di sektor informal membuat mereka kerap tidak memahami hak-hak yang ada di perjanjian kerja.

"Masalah rendahnya pendidikan TKI merupakan pemicu berbagai masalah yang timbul di luar negeri. TKI kerap tidak bisa membaca dan menulis, akibatnya mereka tidak tahu bahwa identitas mereka dipalsukan di paspor, tidak paham isi kontrak, dan tidak dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi kerja di luar negeri yang berbeda dengan di Indonesia," kata Wardoyo.

"Yang terparah adalah mereka tidak dapat membela diri ketika mengalami eksploitasi, baik oleh majikan maupun agen. Jika TKI yang dikirimkan setidaknya berpendidikan minimal SMA, dengan dasar pendidikan yang memadai tentunya kompetensi mereka akan jauh lebih baik," lanjut Wardoyo.

***

Demi mencegah munculnya kasus serupa seperti yang dialami Sumiati, maka pemerintah Indonesia diharapkan menerapkan langkah yang sama saat menghadapi Malaysia tahun lalu, yaitu menangguhkan pengiriman pekerja migran ke Arab Saudi dan memaksa mereka untuk berunding membuat perjanjian yang menjamin perlindungan dan hak-hak para pekerja.

Selain Arab Saudi, Malaysia pun dikenal sebagai salah satu tujuan utama pengiriman pekerja migran - khususnya di sektor informal, seperti pembantu rumah tangga. PRT asal Indonesia pada akhirnya memberi pengaruh yang cukup signifikan bagi negara tempat mereka bekerja.

Malaysia kini tampak kesulitan mendapatkan tenaga baru untuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT) sejak Indonesia menghentikan ekspor PRT ke Negeri Jiran tahun lalu. Menurut laman harian The Star, Selasa 16 November 2010, para agen penyalur PRT mengaku kesulitan untuk mendatangkan PRT asing sejak Indonesia membekukan pengiriman PRT Juni tahun lalu, menyusul banyaknya kasus penganiayaan dan perlakuan yang tidak pantas yang diterima pekerja dari negeri ini.

"Kita terpaksa menolak permintaan PRT dari konsumen karena kekurangan tenaga," kata Raja Zulkepley Dahalan, direktur Agensi Pekerjaan Haz Bhd, kepada The Star.   

Sambil menunggu perundingan antara Indonesia dan Malaysia untuk membuat perjanjian yang menjamin perlindungan dan hak-hak PRT dari Indonesia, para agen lalu melirik negara-negara lain sebagai alternatif, diantaranya Kamboja. Direktur Agensi Pekerjaan Sri Nadin Sdn Bhd, Fiona Low, mengungkapkan bahwa banyak agen kini berpaling ke Kamboja sebagai sumber penyedia PRT karena sementara ini merupakan alternatif terbaik.vivanews.com

11/08/2010

Petani Tewas Ditembak Brimob

0 komentar
Peluru Polisi kembali memakan korban jiwa warga sipil. Kali ini, seorang petani asal Desa Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Ahmad Adam (40), tewas ditembak anggota Brimob, Senin (8/11/2010) sekitar pukul 14.00.

Penembakan terjadi saat puluhan warga Desa Senyerang melakukan aksi unjuk rasa memblokir Sungai Pengabuan dengan membentangkan kawat.

Aksi unjuk rasa terkait masalah sengketa lahan seluas 7.224 hektar antara warga dengan PT Wira Karya Sakti (WKS). Sengketa lahan itu telah berlangsung sejak tahun 2000, namun hingga sekarang belum ada penyelesaian.

Menurut Ketua Persatuan Petani Jambi Brontoseno, aksi pemblokiran sungai sudah berlangsung sejak tangal 4 November 2010. Sekitar pukul 13.30, sebuah kapal tanker menerobos blokade warga. Di belakang kapal tanker terdapat sebuah kapal penarik ponton yang mengangkut sekitar 30 personel Brimob bersenjata lengkap.

Puluhan warga naik perahu ketek mendekati kapal tersebut agar berhenti, namun anggota Brimob malah melepaskan tembakan peringatan. "Saya menghitung ada 50-an tembakan," kata Brontoseno.

Warga pun terpancing emosinya, sehingga melemparkan bom molotov ke arah ponton yang ditarik kapal tersebut. Sementara anggota Brimob terus melepaskan tembakan peringatan sehingga warga memilih mundur. Saat warga mundur terjadi penembakan yang menyebabkan korban tertembak di kepala. "Korban sempat dibawa ke Puskesmas tapi nyawanya tidak tertolong," kata Brontoseno.

Kepala Bidang Humas Polda Jambi Ajun Komisaris Besar Almansyah belum dapat memberikan komentar terkait peristiwa tersebut karena belum menerima laporan lengkap. Kompas.com

Piyu Padi Lelang "Istri" Rp 35 Juta

0 komentar
Jakarta - Untuk menggalang dana untuk korban bencana alam di Indonesia Piyu Padi menggagas sebuah ide untuk membuat sebuah acara dengan melibatkan 30 gitaris yang diambil dari grup Blackberrynya.

Dalam acara yang digelar Jumat (5/11) malam juga diadakan lelang gitar milik Setiawan Djodi, Dewa Budjana dan Piyu Padi. Tujuan diadakan lelang sendiri agar semua gitaris bisa main dan ikut serta. Selain gitar mereka juga mengedarkan langsung kotak putih untuk donasi.

Dalam pelelangan gitar tersebut gitar Piyu Padi terjual dengan harga Rp35.000.000 dibeli oleh putra dari Sandriana Malakian, bernama Kalam. Piyu mengaku sangat bangga sekaligus haru dengan perhatian masyarakat, undangan dan tamu. Terlebih gitarnya bisa terjual dan bisa langsung disumbangkan.

"Bangga sekaligus haru, perhatian masyarakat, para undangan, tamu dan semuanya sangat luar biasa, gitar saya juga bisa terjual dengan maksimal dan bisa langsung disumbangkan," ujarnya saat ditemui di Bentara Budaya Kompas, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (5/11).

Piyu mengatakan bahwa gitar yang dibelinya di Hongkong yang dia lelangkan mempunyai nilai historis tersendiri. Menurut Piyu koleksi gitar yang dimilikinya termasuk yang dilelang diibaratkan sebagai istrinya, dia juga rela dan ikhlas memberikan gitar tersebut.

"Ikhlas sekali memberikan sesuatu yang saya cintai, semua gitar itu ibarat istri saya, saya cintai yang saya sangat sayang," paparnya.

Piyu berharap hasil penjualan gitarnya bisa bermanfaat untuk korban bencana alam yang membutuhkan. -kapanlagi.com-

PDIP Ingin Balas Kekalahan Pilbup Tuban

0 komentar
SURABAYA - Kekalahan pemilihan bupati (Pilbup) Tuban 2006 silam masih yang berujung kerusuhan, membekas di internal kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
“Kekalahan dulu itu menjadi pelajaran sangat berharga sekaligus menjadi penggugah semangat menang dalam
Pilbup 2011 mendatang,” jelas Sirmadji Tjondro Pragolo, Ketua DPD PDIP Jatim, Selasa (12/10).

PDIP Jatim menyebut kekalahan di Pibup Tuban empat tahun lalu sebagai kecelakaan sejarah. Sebab jago yang diusungnya bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kalah tipis.

Sirmadji mengungkapkan, persiapan PDIP untuk Pilbup Tuban saat ini baru melihat calon dan melakukan penjajagan koalisi. Maklum untuk mengusung calon PDIP yang memiliki enam kursi masih butuh tambahan dua kursi lagi.

“Protapnya, nanti dibuka pendaftaran di DPC, lalu ada konfercabsus untuk menentukan calon yang dimintakan rekomendasi ke DPP. Di luar proses ini, partai juga melakukan survei figur-figur yang dikehendaki masyarakat. Baik figur PDIP maupun figur-figur di luar partai,” tuturnya.

Hasil Survei ini pula , kata Sirmadji, yang akan menjadi salah satu pertimbangan PDIP untuk menentukan porsi dalam koalisi, apakah PDIP mengambil posisi calon bupati atau kembali mengambil porsi wakil seperti 2006 silam. “Kalau ternyata calon dari PDIP ternyata memiliki popularitas dan elektabilitas lebih tinggi, ya ambil posisi nomor satu. Sebaliknya, kalau ternyata calon dari mitra koalisi yang elektabilitasnya lebih tinggi, PDIP akan ambil wakil,” katanya.

Saat ini dari internal kader PDIP, ada dua figur yang sudah mengibarkan bendera untuk maju. Yaitu Go Cong Ping (Teguh Prabowo Gunawan), mantan cawabup yang kalah tahun 2006 dan Ali Mudji, Fraksi PDIP di DPRD Jatim dari daerah pemilihan (dapil) Tuban-Bojonegoro. surya.co.id

11/07/2010

Rp 31 M untuk Pilkada Tuban

0 komentar
Tuban -SURYA- Pilkada Kabupaten Tuban 2011 diperkirakan menghabiskan dana Rp 31 miliar. Semua dana itu, diambil dari uang APBD Tuban berdasar pengajuan dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Tuban.

Ketua KPUD Tuban, Soemito Karmani kepada Surya, Rabu (26/10) mengatakan, dana pilkada terbagi dalam dua tahun anggaran, yakni anggaran 2010 Rp 6.534.525.040 dan anggaran 2011 Rp 25.141.702.419.

“Anggaran yang diajukan pada 2011 ini untuk biaya pilkada dua putaran. Untuk putaran pertama Rp 14.634.474.482 dan putaran kedua sebesar Rp 10.507.227.937,” terang Sumito.

Jika dibandingkan dengan anggaran Pilkada 2006, anggaran Pilkada 2011 ini jauh lebih besar. Biaya Pilkada 2006 hanya Rp 10 miliar, dan dari dana tersebut, Rp 1 miliar digunakan untuk membiayai keperluan panwaslu.

Namun, pada Pilkada 2011, panwas memiliki anggaran sendiri sebagaimana yang diajukan oleh Pemkab Tuban. Berapa anggaran untuk panwas, belum jelas. “Dana untuk panwas diperhitungkan dan diajukan oleh Pemkab Tuban,” jawab Minan, Ketua Panwaslu Tuban saat ditemui di kantornya.-emtovic-
http://www.surya.co.id/2010/10/28/rp-31-miliar-untuk-pilkada-tuban.html

Tes Osis, Siswa Dipaksa Mengemis

0 komentar
TUBAN - SURYA- Aksi perpeloncoan terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri I Tuban. Dalam proses seleksi pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) periode 2010-2011 yang digabung dengan latihan dasar kepemimpinan (LDK) itu, para siswa kelas X dan XI diperintah seniornya menjadi pengemis di jalanan dan pasar, Minggu (31/10).

Beberapa di antara mereka hanya mengenakan jarik (selendang) sebagai penutup tubuh dan mengenakan ember plastik sebagai penutup kepala. Tak hanya itu, siswa-siswi itu juga hanya mengenakan satu sepatu sebagai alas kaki untuk berkeliling di jalanan di siang hari yang panas itu.

Busana semrawut itu dipadu dengan sobekan kardus bertuliskan nama mereka masing-masing yang digantung menggunakan tali di leher sampai ke dada. Itu pun bukan menggunakan nama asli peserta, melainkan memakai nama jajanan seperti Ote-ote, Tiwul, Telo, Jemblem, dan sebagainya.

Tugas dari para seniornya dengan dalih untuk melatih mental sebelum menjadi pengurus OSIS itu wajib dilakukan semua siswa yang ikut dalam acara tersebut. Dengan busana tidak karuan, mereka diminta jalan kaki, antara lain, melewati Jl dr Wahidin Sudirohusodo, Jl Parmuka, bahkan sampai ke Pasar Baru Tuban di Jl Mohammad Yamin.

Ironisnya, di sepanjang jalan itu para siswa diminta mengemis alias meminta barang atau uang kepada siapa saja yang mereka temui. “Selain disuruh meminta barang atau uang dan sebagainya, kita juga disuruh mencatat nama dan alamat orang yang kita temui,” kata Alfin, siswa kelas X SMKN I Tuban saat melintas di Jl Pramuka. Demikian halnya yang dilakukan siswa lainnya.

Siswa-siswi yang berpakaian aneh itu juga berkeliling di dalam Pasar Baru Tuban sambil menyanyi di pusat keramaian layaknya pengamen jalanan. Beberapa di antara mereka juga ada yang memijat sejumlah warga di dalam pasar demi memenuhi tugas para seniornya. “Saya pijat ya Pak, nggak apa-apa, yang penting saya nanti diberi sesuatu dan dikasih tahu nama serta alamatnya,” ujar siswa tersebut.

Hal sama dilakukan Dedi, siswa kelas XI. Ia mengaku disuruh seniornya untuk melakukan hal-hal aneh itu dengan dalih untuk mengetes atau menguji mentalnya sebelum menjadi pengurus OSIS. “Sebelumnya juga ada acara jurit malam pada Sabtu malam kemarin. Semua itu katanya untuk mengetes mental kami,” ujar Dedi.

Para pengguna jalan yang sempat bertemu dengan siswa-siswi tersebut mengaku prihatin dengan acara perpeloncoan tersebut. “Lha iya, zaman seperti ini kok masih ada model perpeloncoan seperti itu. Apa gurunya nggak kasihan,” ujar Muchlip, warga Kecamatan Montong setelah bertemu dengan salah satu siswa peserta di Jl Pramuka.

Diceritakan bapak satu anak ini, ada dua siswa peserta yang meminta sesuatu barang kepadanya. Karena tak membawa barang apa-apa, akhirnya kedua siswa itu diberinya uang receh Rp 200 untuk dibagi dua. “Katanya hanya sebagai syarat saja. Ya saya kasih uang recehan Rp 200. Tapi, sebelum pergi mereka juga mencatat nama saya beserta alamat lengkap,” ungkap lelaki bertubuh tambun ini.

Mengaku Tidak Tahu
Dikonfirmasi mengenai hal ini, Darto selaku Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMKN I Tuban mengaku tidak tahu permasalahan tersebut. Ia menuding semua itu merupakan kesalahan para siswa kelas XII sebagai panitia acara. “Memang ada acara tahunan di sekolah. Namun, kalau ada proses perpeloncoan seperti itu, saya belum tahu. Tapi, mungkin saja itu acara spontan para panitia,” dalihnya, Minggu (31/10).

Menurutnya, kegiatan ini merupakan acara tahunan yang diadakan sekolah. “Acaranya hanya dua hari, Sabtu dan Minggu. Tapi, semua ditangani para siswa kelas XII yang terbentuk dalam panitia. Jadi, saya kurang tahu detail tentang acaranya bagaimana,” ujar Darto.

Pihak sekolah, sambungnya, juga tak pernah mengizinkan jika ada perpeloncoan semacam itu. Ia berjanji, pihak sekolah akan melakukan evaluasi tahunan terkait masalah perpeloncoan yang dilakukan anak didiknya tersebut. “Kalau memang terjadi hal seperti itu, kita akan evaluasi,” sambung guru di sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI) ini.

Secara terpisah, Riza Shalahuddin Habibi selaku Ketua Forum Pengamat Pendidikan Tuban (FPPT) mengecam keras proses tes OSIS dan LDK yang dilakukan di SMKN 1 tersebut. “Kita mengecam keras aksi perpeloncoan terhadap siswa. Sebab, semua itu tidak akan memberikan manfaat untuk proses pendidikan siswa. Hal seperti itu justru akan meruntuhkan martabat dunia pendidikan,” kata Riza, Minggu (31/10).

Ditegaskan, aksi perpeloncoan terhadap peserta didik seperti ini jelas merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Sebab, semua itu merupakan aksi merendahkan martabat peserta didik. “Alasan untuk menguji mental, menguji keberanian, atau sebagainya itu tetap saja harus memanusiakan manusia. Kalau dilakukan dengan cara merendahkan peserta didik, jelas pelanggaran HAM,” tukas pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) As Shomadiyah itu.

FPPT juga mendesak kepada Dinas Pendidikan supaya lebih pro aktif mengatasi segala masalah yang terjadi di dunia pendidikan di Tuban. Pasalnya, selama ini banyak masalah yang kurang ter-cover lantaran kurangnya kepedulian dari Dinas dalam memantau dan mengawasi kegiatan-kegiatan dan masalah yang terjadi di lingkup dunia pendidikan di Tuban.

“Menindaklanjuti permasalahan ini, kami juga akan meminta pertanggungjawaban pihak sekolah, dalam hal ini Kepala Sekolah ataupun pejabat di sekolah yang berwenang terhadap aksi perpeloncoan tersebut. Kenapa, aksi seperti ini bisa terjadi dan bisa diloloskan atau diizinkan oleh pihak sekolah,” janjinya.-emtovic-
http://www.surya.co.id/2010/11/01/tes-osis-siswa-dipaksa-jadi-pengemis.html

Dua Balon Independen ke KPU

0 komentar
Pasangan Bangkit (emtovic)
Tuban - SURYA- Dua pasangan bakal calon (balon) Bupati Tuban dari jalur independen menyerahkan surat dukungan ke KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) setempat, Senin (1/11). Mereka adalah pasangan Muhammad Chamim Amir-Ashadi Suprapto dan pasangan Bambang Lukmantono-Edy Toyibi.

Bisa dipastikan, hanya dua calon inilah yang bakal maju sebagai calon independen pada pemilukada yang bakal digelar 1 Maret 2011. Pasalnya, sesuai tahapan pemilukada, kemarin merupakan batas akhir bagi pasangan calon yang maju dari jalur independen untuk menyerahkan dukungan.

Pasangan pertama yang menyerahkan dukungannya ke KPUD adalah pasangan Chamim-Ashadi. “Kami menyerahkan 46.351 dukungan dari 223 desa yang berada di 20 kecamatan,” kata Chamim yang datang ke kantor KPUD tanpa didampingi Ashadi sebagai pasangannya sekitar pukul 14.45 WIB.

Beberapa puluh menit kemudian, pasangan Bambang Lukmantono-Edy Toyibi (Bangkit) tiba di kantor KPU di Jl Pramuka untuk melakukan hal yang sama, yakni menyerahkan dukungan guna melengkapi persyaratan maju sebagai calon bupati/wakil bupati Tuban periode 2011-2016. “Kami menyerahkan 39.100 dukungan yang terkumpul dari 15 Kecamatan,” ujar Bambang Lukmantono. Selanjutnya, KPU akan melakukan verifikasi faktual sebelum mengesahkan keduanya untuk maju sebagai calon.-emtovic-
http://www.surya.co.id/2010/11/02/dua-balon-independen-ke-kpud.html

Ali Muji Mundur, Cong Ping Melenggang

0 komentar
Ali Muji (emtovic)
Tuban - Surya- Tokoh PDIP asal Kabupaten Tuban, Ali Mudji, resmi mengundurkan diri sebagai bakal calon bupati (bacabup) Tuban, lantaran kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk meneruskan niatnya maju dalam pilkada tahun depan.

“Pak Ali Mudji mengundurkan diri, sebab rekomendasi dokter menyatakan bahwa kesehatannya tidak mungkin untuk digunakan beraktivitas sebagai cabup selama dua bulan ke depan,” kata Subandi, salah satu orang terdekat anggota DPRD Jatim tersebut.

Pengunduran diri ini mengagetkan sejumlah kalangan lantaran dilakukan menjelang pendaftaran calon ke KPUD. Apalagi, Ali Mudji sudah mendaftarkan diri ke DPIP bergandengan dengan Muhammad Anwar yang menjadi bakal calon wabup. “Kami memang sudah mendapat kabar itu. Tapi, secara resmi DPC PDIP Tuban belum menerima surat secara resmi,” kata Sekretaris DPC (Dewan Pimpinan Cabang) PDIP Tuban, Abu Kholifah, Minggu (7/11).

Mundurnya Ali Mudji dalam kancah perebutan rekomendasi DPP PDIP untuk maju sebagai calon bupati Tuban ini berarti membuka peluang besar bagi Teguh Prabowo alias Cong Ping yang juga sudah mendaftar ke PDIP untuk maju sebagai bacabup melalui partai berlambang Banteng Moncong Putih tersebut. Ketua DPC PDIP Tuban, Karjo mengaku kedua orang itu telah mendaftar ke partainya.

Kepada Surya, Cong Ping mengaku telah mendengar kabar tentang pengunduran diri Ali Mudji. Namun, lelaki yang pernah mendekam sembilan bulan di Rutan Medaeng dalam kasus kerusuhan Pilkada Tuban 2006 itu, menyatakan bahwa saat ini yang menjadi konsentrasi dirinya adalah rekomendasi DPP.

“Bagi saya yang paling penting saat ini ada rekomendasi DPP. Setelah menerima rekomendasi, saya bisa dengan cepat menentukan pasangan untuk maju dalam pilkada 2011 nanti,” ujar Cong Ping.emtovic
http://www.surya.co.id/2010/11/08/ali-mudji-mundur-cong-ping-melenggang.html

Merapi Muntahkan Harta RP 10 Triliun

0 komentar
Hingga hari ke-12, Sabtu (6/11), Gunung Merapi belum menyudahi aktivitasnya dan masih mengeluarkan awan panas (wedhus gembel). Namun, di balik semua bencana itu, Merapi juga bekerja menyiapkan rejeki baru. Ya, Merapi juga telah memuntahkan harta berupa material vulkanik senilai sedikitnya Rp 10 triliun. Sejak meletus, 26 Oktober, erupsi Merapi telah menewaskan sedikitnya 116 orang, 218 luka, dan memaksa sekitar 198.000 jiwa mengungsi. Namun bencana akibat letusan terdahsyat dalam 140 tahun terakhir itu juga membawa ‘berkah’.

Banjir lahar yang bersumber dari guguran material Merapi menjadi rejeki bagi warga bantaran Kali Code di Kledok Tukangan, Danurejan, Kota Jogjakarta. Haryanto, salah satu warga di kampung itu nekat melakukan aktivitasnya menambang pasir meski ancaman lahar dingin mengancam. Aktivitas menambang pasir juga dilakukan warga sekitar Muntilan di Sungai Pabelan, Magelang.

“Ini rejeki Merapi,” kata Haryanto yang ditemui sedang menambang pasir, Sabtu, (6/11). Selama dua jam dia bekerja secara tradisional menggunakan cangkul dan sekrop, dua gundukan pasir sudah berhasil ditambangnya. Dia mengaku sudah mendapat pesanan dari pengusaha pasir. Menurut Haryanto, pesanan pasir sudah datang karena pengusaha pasir tahu kualitas pasir Merapi setelah meletus sangat bagus. Kualitas satu. Harganya pun mahal.

Sejumlah hasil penelitian menyebut, pasir Merapi atau sering disebut pasir Muntilan mempunyai kadar lumpur hanya 3 persen. Padahal menurut Departemen Pekerjaan Umum pasir sudah disebut baik jika kadar lumpurnya 5 persen. Pasir Merapi memiliki angka kekekalan rata-rata 10 persen, sementara pasir pada umumnya memiliki angka kekekalan di atas 10 persen.

Untuk satu truk pasir, setara enam kubik pasir, Haryanto mendapat bayaran Rp 360.000. “Lumayan untuk menambah biaya hidup,” ujar pedagang di Pasar Beringharjo ini. Satu kubik pasir dihargai Rp 60.000 (di tingkat penambang). Dan sampai ke tangan konsumen, satu kubik pasir Merapi bisa terjual Rp 100.000.
Haryanto mengaku tak khawatir dengan kiriman banjir lahar dingin akan mencelakakan dirinya karena kedatangannya memiliki tanda-tanda. “Kalau pohon-pohon dan batu datang, itu berarti sebentar lagi akan datang kiriman lahar dingin,” kata dia.

Nah, begitu tanda-tanda itu muncul, maka dia langsung naik ke atas. Haryanto mengaku tahu ciri kedatangan banjir lahar dingin, setelah mengalami tiga kali letusan Merapi. “Jadi sudah hafal kedatangannya,” kata dia.
Pasir yang hanyut terbawa air itu, kata Haryanto, tak akan habis selama setahun. “Sebentar lagi warga di sini akan menambang, karena sudah mendapat pesanan,” ujarnya dilansir tempointeraktif.

Haryanto mengaku, petugas Camat sudah menginformasikan warga Kledok Tukangan untuk menjauhi bantaran sungai. Wali Kota Jogjakarta Herry Zudianto dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengku Buwono X berkali-kali mengimbau agar warga menjauhi bantaran untuk menghindari ancaman banjir lahar dingin yang sewaktu-waktu akan datang. Toh, peringatan itu tak efektif untuk mencegah warga menambang.

Ungkapan Haryanto bahwa Merapi membawa rejeki –selain membawa bencana– juga pernah disampaikan Dr Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM. Menurutnya Merapi sedang bekerja menyiapkan rejeki baru untuk masyarakat.
“Merapi itu sedang membuat rejeki baru untuk masyarakat, nanti ada pasir baru untuk warga sekitar,” kata Surono yang saat ini akrab disapa Mbah Rono, Rabu (3/11).

Karena itu, Mbah Rono meminta masyarakat yang tinggal di lereng Merapi bersabar untuk sementara. Dia juga meminta agar masyarakat tidak hanya terus mengeluh dengan adanya aktivitas Merapi saat ini.
“Merapi kan selama ini lebih banyak memberi daripada meminta, saat ini dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk mengerti. Biarkan dulu Merapi membuat rejeki baru,” kata ayah dua putri ini.

Pria yang menyelesaikan doktor geofisikanya di Prancis ini mengatakan, Merapi masih mengeluarkan awan panas yang biasa disebut wedhus gembel. Awan panas itu memiliki suhu di atas 600 derajat celcius yang sangat berbahaya baik bagi manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.
“Jadi lebih baik jeda dulu sebentar, jangan merasa mengungsi itu seperti diusir dan sebagainya. Ini demi kebaikan bersama,” kata pria 55 tahun ini.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Dr R Sukhyar, Sabtu (6/11), memperkirakan jumlah material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi sejak 26 Oktober hingga 5 November telah mencapai sekitar 100 juta meter kubik. Material yang diantaranya berupa debu, pasir, kerikil, dan kerakal itulah yang nantinya terbawa air hujan menuju sedikitnya 13 sungai di sekitar Merapi. Merapi juga mengeluarkan gas dan awan panas (wedhus gembel). Kelak, setelah semua material Merapi sampai ke sungai, dan mulai ditambang, maka menjadi lahan rejeki baru bagi warga.

Dengan hitungan kasar, ada pasokan material baru dari Merapi sebanyak 100 juta meter kubik, maka belasan sungai di lereng Merapi diperkirakan menyimpan material (terutama pasir) senilai Rp 10 triliun. Itu dengan asumsi harga pasir Merapi satu meter kubik senilai Rp 100.000.

Namun, Sukhyar memperingatkan masyarakat sementara ini harus menjauhi bantaran sungai. Karena ancaman Gunung Merapi tidak hanya awan panas, tetapi juga banjir lahar apalagi saat terkena hujan yang cukup lebat di lereng gunung.

Sejumlah alur sungai yang perlu dihindari adalah Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Krasak, Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu. Berdasarkan pengamatan di lapangan, endapan awan panas bisa mencapai jarak 12 km di Kali Boyong dengan ketebalan hingga 10 meter.

Sukhyar mengatakan, masyarakat agar terus waspada karena aktivitas Gunung Merapi masih tetap tinggi berdasarkan data pengamatan secara instrumental dengan menggunakan seismograf di BPPTK. “Fluktuasi Gunung Merapi masih cukup tinggi sehingga status Merapi masih tetap ‘Awas’ dan daerah terdampak juga masih tetap sama, yaitu radius 20 kilometer (km),” katanya.

Kampung Mati
Sementara itu tim gabungan relawan, TNI, dan SAR, Sabtu (6/11), kembali menyisir kawasan lereng Merapi untuk melakukan evakuasi tahap II pascaletusan, 4 November. Langkah ini diambil setelah beberapa saat menyaksikan aktivitas Merapi relatif tenang. Namun tim evakuasi kembali dikejar awan panas ketika mencoba melakukan evakuasi di kawasan hutan bambu di Desa Glagaharjo, Sleman. Tak ayal, mereka pun lari tunggang langgang.

Jumlah orang yang dilaporkan hilang kepada polisi jaga di ruang forensik RSU dr Sar­djito Jogjakarta, pascaletusan 4 November, mencapai 135 orang. Sementara korban meninggal menurut data unit forensik rumah sakit hingga siang kemarin mencapai 81 orang. Adapun korban luka mencapai 104 orang. Total korban tewas sejak Merapi meletus 26 Oktober menjadi 144 orang.

Dari jumlah korban meninggal pascaletusan 4 November, baru 13 yang berhasil diidentifikasi (termasuk seorang anggota polisi). Jenazah sulit dikenali karena hampir semua gosong dan banyak kulit korban saling menempel satu sama lain.

Di depan ruang forensik rumah sakit masih dibanjiri keluarga korban. Orang-orang yang mengadukan kehilangan anggota keluarganya terus berdatangan. Sukardi, 49, warga Dusun Gadingan, Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Cangkringan, hingga kemarin belum menemukan anaknya yang bernama Taufik Arifin, 22. Saat Merapi meletus, Arifin sibuk mengantar keluarga ke pengungsian dengan sepeda.

Polisi melarang warga masuk wilayah perkampungan di kawasan bahaya Merapi. Bagi yang berkepentingan diberikan kesempatan dengan durasi waktu yang dibatasi. Pantauan Tribunnews (grup Surya), lalu lintas radius 20 kilometer dari puncak Merapi dijaga ketat polisi. Warga yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Bahkan, banyak pengguna jalan yang membatalkan perjalanan dan kembali ke bawah, atau ke arah Jogjakarta.

Abu vulkanik masih tebal menyelimuti semua perkampungan di kawasan lereng Merapi. Tidak ada aktivitas orang karena hampir semuanya mengungsi. Praktis, perkampungan di lereng Merapi seperti kampung mati. -surya.co.id-
http://www.surya.co.id/2010/11/07/merapi-muntahkan-harta-rp-10-triliun.html

9/17/2010

Banjir kok Sampai Dua Tahun

0 komentar
Agak tidak masuk akal memang, tapi inilah kenyataan yang terjadi di Desa Kedungharjo, Tegalrejo dan Desa Simorejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban. Banjir yang melanda sejak tahun 2008 lalu, masih menyisakan kesedihan bagi para petani di tiga Desa tersebut hingga di penghujung tahun 2010.

Terhitung, ada lahan pertanian seluas kurang lebih 80 hektare yang masih tergenang air bercampur lumpur dengan ketinggian sekitar 70 sentimeter. Padahal, pada tahun 2009 lalu pemerintah sudah melakukan pengerukan lahan itu dengan kucuran dana sebesar Rp3,5 miliar dari APBN. Namun, sampai saat ini lumpur bercampur air masih jadi pemandangan menyedihkan di sana.

Di Desa Tegalrejo, lahan pertanian sekitar 50 hektar hingga saat ini masih terendam air setinggi 70 cm. Menurut warga, hal ini disebabkan karena upaya pengerukan lahan tidak dilakukan secara maksimal. Bahkan, beberapa kalangan menilai bahwa pengerukan hanya dilakukan asal-asalan saja. Demikian halnya di Desa Kedungharjo. Lahan pertanian seluas 30 hekatar hingga saat ini juga masih tergenang air dengan ketinggianya hampir 70 cm.

Banjir tersebut berawal pada peristiwa banjir terbesar di Kecamatan Widang yang terjadi tahun 2008. Ketika itu, tanggul Bengawan Solo jebol dan air meluber ke berbagai perkampungan penduduk serta membanjiri ratusan hektar lahan pertanian di sana. Kendati banjir sudah berlalu dari sejumlah permukiman penduduk, air bercampur lumpur di area pertanian ini masih tetap bertahan. –emtovic-

Contoh Kecil saat Alam Mengamuk

0 komentar

Air dan angin merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, ketika keduanya mengamuk, maka musibahlah yang sedang menyapa kita. Di Bojonegoro, beberapa hari lalu alam memberi contoh kecil bagaimana jadinya saat ia mengamuk.

Hujan deras bercampur angin kencang memporak-porandakan sejumlah permukiman penduduk. Jerit tangispun bercampur menjadi satu dengan suara gemuruh kemarahan putting beliung yang sedang menyapa Ledok Kulon dan Desa Banjarrejo, Kecamatan Kota; Desa Sranak, Kecamatan Trucuk; dan Desa Tumbras, Kecamatan Kedungadem, Minggu (13/9/2010).

Dua rumah roboh di Keluarhan Ledok Kulon, bangungan SDN II Banjarejo, Bojonegoro rusak parah, dan puting beliung juga menerjang gedung SDN Tumbrasanom, di Kecamatan Kedungadem. “Ada enam ruang kelas di sekolahan ini ambruk setelah disapu angin. Paling parah adalah ruang kelas V,” kata Camat Kedungadem, Ali Mahmudi sesaat setelah kejadian.

Selain itu, puluhan rumah warga di empat desa tersebut juga kebanyakan mengalami rusak di bagian atapnya. Di Kelurahan Ledok Kulon ada empat rumah yang atapnya porak-poranda. Yakni rumah milik Kusno, Jalidin, Sukimin, dan Salim. Dan di Desa Sranak, sedikitnya ada 60 rumah warga yang juga rusak parah di bagian atapnya setelah terhempas angin.

Jika dibandingkan dengan bencana alam lain yang terjadi selama ini, kejadian ini bisa dibilang merupakan bencana kecil akibat kemarahan alam. Namun, paling tidak kita mendapat pelajaran penting bahwa apa yang setiap saat kita rasakan kenikmatanya itu sewaktu-waktu bisa berubah menjadi petaka. –emtovic-

Pengorbanan (tragis) Seorang Kekasih

0 komentar
Perayaan lebaran Idul Fitri 2010 berubah menjadi peristiwa memilikukan bagi pasangan kekasih Dawil Nur Supolo, 21, warga Desa Gamongan, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro dan Eka Yuli Lestari, 18, warga Desa Banjarjo, Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Bagaimana tidak, keduanya tewas tenggelam di Bengawan Solo setelah terjatuh dari jembatan Desa Dengok, Kecamatan Padangan, Bojonegoro saat berpesta kembang api.

Jembatan yang sudah rusak dan tak terpakai ini menjadi saksi bisu pengorbanan Dawil kepada kekasihnya, Jumat (10/9/2010) malam. Ia nekat menceburkan diri ke Sungai Bengawan Solo demi menolong sang kekasih yang sebelumnya terperosok salah satu lubang jembatan dan terjatuh ke sungai. Bukan malah menolong, tapi upaya nekat itu membuat Dawil menyusul pacarnya. Mereka berdua tewas setelah tenggelam dan hanyut di sungai yang dalam kondisi arusnya deras setelah beberapa hari hujan mengguyur.

Setelah dilakukan berbagai upaya pencarian oleh tim SAR dan ratusan warga, pada Minggu (12/9) kedua jenazah baru berhasil ditemukan. Dawil ditemukan mengapung di Desa Banjarejo, Kecamatan Padangan sekitar pukul 04.00 WIB berjarak sekitar 2,5 kilometer dari lokasi kejadian. Sedangkan jenazah Eka Yuli Lestari ditemukan di Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu mengambang di pinggir Bengawan sekitar 21 kilometer.

Beberapa warga menceritakan, pada Jumat malam sekitar pukul 21.30 WIB atau pas malam pertama Lebaran Idul Fitri 1431 Hijriyah, ada lima orang muda-mudi yang berpesta kembang api di jembatan penghubung Bojonegoro-Cepu yang sudah rusak tersebut. Mereka adalah sepasang kekasih Dawil dan Eka, bersama tiga orang temanya Sugiono, warga Desa Tanjung Kecamatan Tambakrejo; Dewi Wulandari dan Anggreini, warga Desa/Kecamatan Padangan, Bojonegoro.

Lantaran takut terkena percikan kembang api, mereka berlari mundur sebelum kembang api meletus. Apesnya, Eka terperosok ke salah satu lubang di jembatan setinggi 30 meter dan tercebur ke dalam Bengawan Solo. Melihat itu, Dawil bertindak cepat dengan cara ikut terjun ke Bengawan melalui lubang yang sama. Akhirnya perayaan lebaran itu berujung maut bagi sepasang kekasih ini. –emtovic-